Surabaya (beritajatim.com) – Lulusan pendidikan vokasi kini semakin diminati oleh dunia kerja, seiring dengan peningkatan kebutuhan industri akan sumber daya manusia (SDM) yang siap pakai dan terampil. Hal ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren peningkatan jumlah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Diploma yang terserap di dunia kerja setiap tahunnya.
Berdasarkan laporan Katalog Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Tahun 2020-2023, terjadi peningkatan kebekerjaan lulusan SMK sebesar 4,24 persen dalam periode tersebut. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) lulusan SMK juga meningkat sebesar 3,83 persen, dengan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,04 persen. Pada Februari 2024, sebanyak 17,18 juta lulusan SMK telah bekerja, meningkat hampir 1,5 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya lulusan SMK, jenjang Diploma I/II/III juga menunjukkan tren serupa. Jumlah lulusan yang bekerja mencapai 3,39 juta pada Februari 2024, meningkat 341 ribu dari tahun sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa lulusan vokasi di Indonesia semakin diminati oleh industri.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa peningkatan ini adalah hasil dari berbagai program yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk meningkatkan keterampilan lulusan vokasi.
“Kami melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keterampilan para peserta didik, guru, dosen, dan tenaga pendidik lainnya, agar lulusan vokasi memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri,” ujar Tatang.
Kemendikbudristek, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, terus mengembangkan program inovatif seperti Teaching Factory, di mana peserta didik dapat belajar langsung dalam simulasi lingkungan industri. Program ini bertujuan untuk membekali mereka dengan pengalaman kerja nyata dan meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan di dunia kerja yang terus berubah, terutama dalam aspek pengembangan teknologi.
Selain itu, Ditjen Pendidikan Vokasi juga secara aktif menjalin kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) melalui program Business Matching, yang memberikan ruang interaksi antara pelaku industri dan institusi pendidikan vokasi. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan peserta didik dan menjamin relevansi antara kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri.
Menurut laporan Rapor Pendidikan Indonesia 2023, tingkat penyerapan lulusan SMK yang melanjutkan, bekerja, atau berwirausaha mencapai 87,07 persen, mencerminkan besarnya minat dunia kerja terhadap lulusan vokasi. Bahkan, pada Februari 2024, penduduk yang bekerja dari lulusan SMK mengalami peningkatan 0,78 persen poin, sementara lulusan Diploma I/II/III naik 0,19 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Tatang menegaskan bahwa Kemendikbudristek akan terus berkolaborasi dengan berbagai sektor untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan kualitas SDM vokasi. “Kami akan terus bekerja sama dengan para mitra industri untuk meningkatkan keterampilan lulusan vokasi agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan,” tutupnya.
Dengan perkembangan ini, pendidikan vokasi semakin diakui sebagai kunci untuk mencetak SDM yang kompeten, produktif, dan mampu bersaing di era globalisasi. [beq]






