Surabaya (beritajatim.com) – Akademi Kuliner Monas Pasifik Surabaya kembali menggelar wisuda setelah dua tahun terhambat oleh Pandemi Covid-19. Kali ini, Monas Pasifik mengukuhkan sebanyak 60 wisudawan di Isyana Ballroom Hotel Bumi, Surabaya, Sabtu (26/11/2022).
“Kami Akademi Kuliner Monas Surabaya sangat berbahagia setelah beberapa tahun terhambat karena Covid-19 dan lain-lain. Tahun ini kami bisa menyelenggarakan wisuda ahli madya kuliner,” ujar Direktur Monas Pasifik Surabaya, Cindita Ginting.
Cindi, sapaannya itu mengungkapkan, bahwa para wisudawan telah mendapatkan bekal dan siap untuk terjun ke dunia kerja. Mereka bisa bekerja di hotel, restoran maupun kapal pesiar.
Tak hanya itu saja, para lulusan juga telah dibekali ilmu tentang kewirausahaan. Sehingga diharapkan bisa berkarya di mana saja.
“(Di akademi) mereka setiap hari praktek empat macam masakan. Jadi bisa dibayangkan apa saja yang sudah mereka bisa, itu pasti luar biasa,” jelas Cindi.
Ia mengaku jika pihaknya juga tak memfokuskan, bahkan meminta agar para lulusan bekerja di tempat tertentu. Cindi hanya berpesan agar ilmu yang sudah didapat bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Terutama untuk mengembangkan kuliner tradisional Indonesia.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Surabaya”]
“Nggak ada fokus tersendiri. Semua tergantung mereka, keinginan mereka, yang penting ilmunya sudah lengkap. Mau wiraswasta ayo, nerusin catering orang tua ayo, mau kerja di hotel bintang lima ayo, mau di kapal pesiar juga siap. Pesan saya cuma satu, kembangkan kuliner Indonesia, potensinya luar biasa,” tuturnya.
Lebih lanjut disampaikan, kendati di Akademi Monas Pasifik tak spesifik berfokus pada kuliner tradisional Indonesia, namun ia tetap meminta agar para lulusan mampu mengembangkan kuliner nusantara tersebut.
“(Kuliner) tradisional (di akademi) ada. Tapi mau nggak mau karena mereka harus kerja di hotel atau kapal pesiar, jadi semuanya harus dibekali. Tapi pesan saya tetap, kuliner Indonesia is the best. Itu yang harus dikembangkan,” tandasnya.
Sebagai informasi, dari total 60 wisudawan, dua di antaranya tak bisa mengikuti prosesi wisuda secara luring. Adapun para wisudawan berasal dari seluruh Indonesia dan luar negeri, seperti dari Aceh, Pulau Rote, NTB, Jawa Tengah, Jawa Timur, Timor Timur dan Vietnam. [ipl/beq]






