Pamekasan (beritajatim.com) – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Harokah Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, menjuarai Lomba Video Edukatif katagori umum se-Madura lewat video pendek bertema Stop Bullying.
Pada perlombaan yang digelar Himpunan Mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling (HMP BK) PGRI Sumenep, konten Stop Bullying gagasan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Perguruan Tinggi yang beralamat di Jalan Raya Palengaan (Palduding) Nomor 2 Pamekasan, terpilih sebagai juara pertama.
Sementara juara kedua untuk katagori umum diraih Euforia, dan juara ketiga Antariksa Group. “Alhamdulillah, konten video pendek dengan tema Stop Bullying yang kami gagas terpilih sebagai juara 1 lomba video edukatif di PGRI Sumenep,” kata Ketua LPM Harokah IAI Al-Khairat Pamekasan, Ulfatul Riski, Senin (11/3/2024).
“Hal ini tentunya tidak lepas dari kerja keras rekan-rekan LPM Harokah yang sudah bekerja keras menggagas konten ini, mulai dari pemilihan ide hingga lakon yang kami tampilkan dalam video berdurasi singkat dan padat, tentunya berisi dan bergizi,” ungkapnya.
Selain itu, pihaknya sengaja mengangkat tema bullying karena dinilai cukup faktual untuk diangkat, terlebih selama ini juga sering terjadi di kalangan masyarakat, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. “Di antara esensi dari video ini, kami ingin menyampaikan efek dari bullying,” imbuhnya.
“Kapan dan dimanapun, sesuatu yang relevan dengan intimidasi itu selalu menyakiti diri. Menjadi korban bullying bukan pengalaman yang menyenangkan, justru bisa hancur, merusak mental, menyedot kebahagiaan masa depan dan membawa dendam. Jadi tidak ada seorangpun yang pantas di-bully, dan tidak ada seorangpun yang boleh berdiam diri dan membiarkan hal itu terjadi,” jelasnya.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) itu, juga menjabarkan secara singkat materi konten yang ditampilkan dalam video pendek yang disertakan pada ajang bergengsi.
“Aku, namaku siapa? Tidak ada yang tau dan tidak perlu kuberi tahu. Hadirku disini seperti stephen king, bukan lagi diperlakukan seperti ‘barang’ yang tidak pernah dicintai. Hal itu menjadi salah satu narasi yang kami tampilkan,” imbuhnya.
Bahkan dalam salah satu slide, juga dijabarkan tentang efek dari perundungan. Semisal dengan kata ‘Jangan dekati, jangan pernah dihibur, ataupun dikasihani’.
“Memahami rasa sakit ini mungkin membuatku lebih waras, sadar bahwasanya di sisa hidupku memang untuk tidak pernah dipeluk,” beber Ulfa.
“Dari itu kami sampaikan terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah bekerja keras untuk membuat konten ini, termasuk juga kepada Kaprodi (BKPI) kami yang sudah memberikan ide dan masukan, serta pimpinan institusi yang selalu memberikan support terbaik,” pungkasnya. [pin/beq]







