Malang (beritajatim.com) – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII terus memperkuat dorongan terhadap perguruan tinggi di Jawa Timur untuk menjadi pionir dalam penerapan konsep kampus berdampak. Hal ini ditegaskan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., dalam sebuah forum bersama akademisi dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi.
“Sekarang ini kita tidak hanya bicara Kampus Merdeka, tapi bagaimana kampus benar-benar berdampak. Di Jawa Timur, kita sudah siapkan banyak inisiatif yang mengarah ke sana,” ujar Prof. Dyah, sapaannya, saat menghadiri workshop oleh Politeknik Negeri Malang (Polinema) bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Senin (16/6/2025).
Ia menjelaskan bahwa kampus berdampak bukan sekadar jargon, melainkan program terintegrasi untuk mendorong perguruan tinggi aktif dalam pengentasan berbagai isu sosial dan ekonomi, antara lain: Swasembada pangan, pengentasan kemiskinan, penurunan stunting, hilirisasi industri terbarukan, serta penguatan riset dan pengabdian masyarakat.
Prof. Dyah menyebut, dengan capaian dan sumber daya yang dimiliki, Jawa Timur berpotensi besar menjadi wilayah dengan kontribusi kampus berdampak terbanyak di Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan. Selama tiga tahun berturut-turut, LLDIKTI Wilayah VII mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terbanyak secara nasional.
“Tahun ini saja kita mengajukan sekitar 1.300 proposal penelitian dosen dan lebih dari 420 proposal pengabdian masyarakat. Itu terbanyak di Indonesia,” paparnya.
Tak hanya itu, peran organisasi mahasiswa (Ormawa) di bawah naungan perguruan tinggi Jawa Timur juga menunjukkan kontribusi besar. Sebanyak 523 program Ormawa tercatat aktif dan produktif, kembali menjadi yang tertinggi secara nasional.
Program kampus berdampak juga dikaitkan dengan visi besar menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks ini, Prof. Dyah menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan tinggi dan industri dalam mencetak SDM unggul, termasuk para insinyur yang mampu memberi kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional.
“Insinyur-insinyur yang hadir di ruangan ini, kita harapkan betul-betul membawa perubahan nyata. Ini adalah energi baru untuk Indonesia,” ujarnya dengan penuh optimisme.
Prof. Dyah Sawitri juga menyoroti transisi penting dari Kampus Merdeka menuju Kampus Berdampak. Menurutnya, pada masa Kampus Merdeka, perguruan tinggi di Jawa Timur sudah menunjukkan kontribusi luar biasa. Maka kini, saat paradigma baru kampus berdampak digencarkan, harapannya capaian serupa bahkan lebih tinggi, bisa diraih.
“Kampus Merdeka dulu kita terbanyak kontribusinya. Kini saatnya kita juga jadi yang terbanyak dalam Kampus Berdampak. Ini bukan sekadar mimpi, ini komitmen,” katanya.
LLDIKTI Wilayah VII berkomitmen untuk terus mensosialisasikan konsep kampus berdampak kepada seluruh perguruan tinggi di wilayahnya. Dukungan terhadap program ini tak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dunia industri serta masyarakat luas.
“Kita perlu bergerak bersama, mengenal sistemnya, dan memastikan bahwa kampus-kampus kita tidak hanya menghasilkan lulusan, tapi juga solusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan capaian riset, pengabdian, serta kolaborasi yang kuat, Jawa Timur dinilai siap untuk menjadi role model nasional dalam transformasi pendidikan tinggi menuju masa depan yang berdampak dan berkelanjutan. (dan/but)






