Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur (Jatim) mengincar posisi juara umum untuk keempat kalinya secara berturut-turut pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional 2026.
Kini, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim tengah mematangkan persiapan 46 kontingen menuju ajang tersebut.
Kompetisi bergengsi tingkat nasional ini bakal berlangsung secara daring dan luring pada 27 Juli sampai 1 Agustus mendatang. Perwakilan Jatim akan berlaga pada 37 bidang lomba dan satu bidang eksibisi.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan pentingnya pembuktian kualitas vokasi. Pihaknya menyiapkan strategi khusus mulai dari pendirian ruang kendali hingga simulasi berkala untuk mempertahankan takhta juara.
“Kompetitor kita di DKI dan Jawa Tengah melirik Jawa Timur yang masih konsisten di peringkat satu. Kita buktikkan dengan kerja keras yang lebih lagi,” ujar Aries, Sabtu (30/5/2026).
Aries meminta para guru dan kepala sekolah memastikan kesiapan mental peserta. Menurutnya, aspek psikologis menjadi penentu saat bersaing ketat di arena perlombaan nasional yang menggunakan sistem campuran ini.
“Saya pesankan kepada kepala sekolah agar mengecek kembali mental dan disiplin para kontingen. Karena ini modal utama. Kalau tidak terukur, saya yakin saat bertanding akan kalah,” katanya.
Dindik Jatim menargetkan raihan lebih dari 20 medali emas tahun ini. Target jangka panjang diarahkan agar lulusan mampu menembus kompetisi internasional serta memperluas sebaran raihan medali di berbagai bidang.
“Saya berharap tujuan utamanya bukan hanya LKS Nasional, tapi World Skills. Kalau ukurannya World Skills, maka LKS Nasional akan terlewati,” tegas Aries.
Kesiapan matang juga terlihat di tingkat satuan pendidikan, salah satunya SMK Telkom Malang. Sekolah ini mengirimkan dua perwakilan untuk bidang keamanan siber dan solusi perangkat lunak.
“Persiapan diperkuat dengan industri dan alumni yang pernah juara. Kami juga menjadwalkan pelatihan rutin setiap hari,” kata Kepala SMK Telkom Malang, Rahmat Dwi Djatmiko.
Pihak sekolah menggembleng siswa melalui bank soal tingkat regional hingga internasional sejak dini. Pola pelatihan nonteknis juga diberikan secara santai agar peserta tidak terbebani tekanan kompetisi.
“Siswa dibuat lebih santai bersama pembimbing untuk persiapan nonteknis,” tutur Rahmat.
Rahmat memetakan kekuatan lawan terberat bidang teknologi informasi yang didominasi sekolah dari DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Partisipasi aktif dalam berbagai ajang simulasi terus dioptimalkan.
“Kalau ada kompetisi, kami selalu ikut untuk melihat kekuatan lawan,” pungkasnya. [ipl/beq]






