Pamekasan (beritajatim.com) – Universitas Islam Negeri (UIN) Madura kembali menambah guru besar setelah Achmad Mulyadi ditetapkan sebagai Guru Besar Ilmu Falak. Ia menjadi profesor ke-19 di lingkungan UIN Madura.
Sebelum meraih jabatan profesor, Achmad Mulyadi dikenal sebagai akademisi yang aktif mengajar, meneliti, dan mengembangkan kajian hukum Islam serta ilmu falak. Bahkan ia juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama Fakultas Syariah saat UIN Madura masih berstatus IAIN Madura.
Achmad Mulyadi secara resmi menyandang status sebagai guru besar berdasar Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang Penetapan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode III Tahun 2025 di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Pengukuhan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik UIN Madura sekaligus memperkuat kapasitas keilmuan universitas, khususnya dalam pengembangan kajian Ilmu Falak yang memiliki peran strategis dalam penentuan kalender hijriah, arah kiblat, hingga rukyatul hilal.
“Alhamdulillah, kami merasa bangga dan bersyukur atas amanah ini. Namun yang lebih penting, gelar Guru Besar menjadi tantangan bagi kami untuk terus memperkuat dan memperdalam keilmuan yang selama ini kami tekuni, khususnya Ilmu Falak,” kata Achmad Mulyadi, Selasa (14/7/2026).
Selain itu pihaknya berharap doa dan dukungan dari masyarakat, sivitas akademika, serta para mahasiswa agar dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik. “Kami memohon doa dari semua pihak agar tugas ini dapat saya laksanakan sebaik-baiknya, dan ilmu yang kami miliki benar-benar bermanfaat bagi umat,” ungkapnya.
Dengan bertambahnya Guru Besar, UIN Madura semakin memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran Prof. Achmad Mulyadi diharapkan mampu memperluas pengembangan riset di bidang Ilmu Falak, memperkuat kolaborasi akademik, serta memberikan kontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan keislaman yang berkaitan dengan astronomi Islam.
Belakangan, Prof Achmad Mulyadi juga aktif memberikan pandangan akademik mengenai penentuan awal bulan Hijriah. Ia menekankan bahwa keberhasilan rukyatul hilal tidak hanya ditentukan oleh perhitungan astronomi, tetapi juga dipengaruhi kondisi atmosfer, kualitas pengamatan, teknologi, dan kompetensi sumber daya manusia.
Pengukuhan Achmad Mulyadi sebagai Guru Besar ke-19 menjadi capaian penting bagi UIN Madura dalam memperkuat budaya akademik dan meningkatkan reputasi institusi di tingkat nasional. Dengan bertambahnya jumlah profesor, universitas diharapkan semakin produktif menghasilkan inovasi, publikasi ilmiah, serta pemikiran yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebelumnya terdapat sebanyak 18 dosen dengan gelar guru besar tersebut, masing-masing Prof Dr Erie Hariyanto, Prof Dr M Asy’ari, Prof Dr Maimun, Prof Dr Moh Zahid, Prof Dr Mohammad Hasan, Prof Dr Mohammad Muchlis Sholichin, Prof Dr Nor Hasan, Prof Dr Mohammad Thoha, Prof Dr Siswanto, Prof Dr Siti Musawwamah, Prof Dr Ummi Supraptiningsih, Prof Dr Zainal Abidin, serta Prof Dr Zainuddin Syarif.
Termasuk empat guru besar yang dikukuhkan pada awal Mei 2026, yakni Prof Dr Achmad Muhlis (Sosiologi Pendidikan Islam), Prof Dr Atiqullah (Kepemimpinan Pendidikan Islam), Prof Dr Mohammad Ali Al-Humaidy (Sosiologi Politik Islam), dan Prof Dr Rudy Haryanto (Ilmu Manajemen Pemasaran), dipimpin Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) pada Dirjen Diktis Kemenag RI, Prof Dr Phil Sahiron.
Sedangkan satu dosen lainnya, yakni Prof Dr Mohammad Kosim harus lebih dulu mengakhiri statusnya sebagai guru besar. Sebab mantan Rektor UIN Madura (sebelumnya IAIN Madura, Periode 2016-2022) meninggal dunia dalam usia 56 tahun, Jum’at (2/5/2025). [pin/kun]






