Malang (beritajatim.com) – Kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK) dinilai menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap ancaman kekerasan, baik fisik maupun seksual di tengah masyarakat. Menanggapi fenomena tersebut, House of Fatima Child Center menggelar Talkshow Parenting bertajuk “Ruang Aman Berbagi Cerita untuk Anak Berkebutuhan Khusus” di Lantai 3 Transmart, Jalan Veteran, Malang, Jumat (29/5/2026).
Acara ini bertujuan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai cara membentengi anak-anak spesial ini dari berbagai ancaman luar. Inisiator acara sekaligus spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, Dr. dr. Ariani, M.Kes., Sp.A(K), SubSp.TKPS(K), menjelaskan bahwa isu keamanan bagi ABK menjadi sangat mendesak mengingat banyaknya berita negatif terkait kekerasan di masyarakat belakangan ini.
“Anak-anak berkebutuhan khusus ini jelas paling rentan; mereka kelompok yang lemah. Kita angkat tema ruang aman bercerita ini agar orang tua bisa membentengi dan melindungi anak-anaknya supaya tidak terkena kejahatan,” ujar Dr. Ariani saat ditemui.
Menurut Dr. Ariani, kesadaran masyarakat di Malang terhadap isu disabilitas masih perlu ditingkatkan. Banyak orang yang masih memberikan stigma negatif terhadap ABK, padahal mereka memiliki keunikan tersendiri sebagai individu neurodivergent.
“Kesadaran masyarakat masih sangat kurang. Perlunya kita sering mengadakan sosialisasi bahwa mereka itu unik. Mereka sering dibilang ‘idiot’ atau ‘tidak mampu’, padahal ternyata mereka juga bisa berkarya,” imbuhnya.
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Kapasitas awal yang disediakan untuk 50 orang terpaksa ditambah menjadi 60 peserta karena banyaknya orang tua dari wilayah Kota maupun Kabupaten Malang yang hadir.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan dari Diforia Band, sebuah grup musik yang seluruh personelnya merupakan penyandang disabilitas (autis, Down syndrome, dan disabilitas intelektual). Band ini digawangi oleh Alfina (vokal), Alberth (gitar), dan Dwi (keyboard).
Meskipun belajar secara otodidak, harmoni musik yang mereka bawakan mampu memukau pengunjung. Penampilan mereka didahului oleh pentas angklung dari para orang tua yang tergabung dalam ABeKa Mom’s Craft.
Ibu Sugiati, ibunda Dwi (keyboardis), mengungkapkan rasa bangganya terhadap progres sang anak. Menurutnya, Diforia Band terbentuk dari seleksi bakat yang dilakukan oleh Dr. Ariani.
“Awalnya kita gabung dengan dokter dulu, lalu dipilih mana bakatnya yang bisa menyanyi atau musik. Alhamdulillah sampai saat ini sudah mempunyai nama band. Saya sebagai orang tua bangga banget karena anak saya punya bakat,” tutur Sugiati.
Senada dengan itu, Ibu Masriya, ibunda dari Alfina (vokalis), menyatakan bahwa musik telah memberikan dampak positif bagi perkembangan mental anak-anak.
“Ada perbedaannya setelah ada band ini. Mereka menjadi saling percaya, saling bersemangat, dan saling merangkul satu sama lain. Mereka sudah pernah tampil di berbagai tempat seperti hotel, MCC, hingga acara DAA,” jelas Masriya.
Dalam sesi inti talkshow, psikolog Suyanto, S.Psi., M.Si., MMRS, memberikan pembekalan mendalam kepada orang tua tentang teknis mendampingi ABK agar mereka mampu mengenali dan menghindari ancaman kekerasan.
Acara ini terselenggara berkat kolaborasi House of Fatima Child Center bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya serta didukung oleh Transmart Malang. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan foto bersama sebagai bentuk dukungan bagi ekosistem inklusi di Kota Malang. (dan/kun)






