Magetan (beritajatim.com) – Kotoran dan urin sapi yang berasal dari Kampung Susu Lawu (KSL) di Lingkungan Singolangu, Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan masih mencemari sungai yang mengalir di Desa Pacalan Kecamatan Plaosan, tepatnya di dekat Sumber Mudal desa setempat.
Desa Pacalan tak hanya satu-satunya desa yang kena imbas pencemaran, namun jadi desa yang paling parah terdampak. Air sungai yang dimanfaatkan untuk pertanian selada air, itu membuat tanaman menjadi layu dan menguning. Imbasnya tumbuhan jadi mati.
Kepala Desa Pacalan Agus Suharto sudah kerap mengeluhkan pencemaran itu. Namun, belum banyak perubahan sejak dua tahun terakhir.
“Sejak adanya peternakan sapi perah di atas, sejak tahun 2019 pokoknya. Ibarat, gak makan nangkanya tapi terkena getahnya. Miliaran digelontorkan untuk kampung susu sepeserpun desa terdampak di bawahnya tidak diberikan alokasi untuk membuat instalasi penanggulangan limbahnya,” kata Agus Suharto, Senin (12/12/2022).
Pihaknya sebenarnya sudah mengajukan bantuan anggaran ke dinas lingkungan hidup berkali kali untuk pembuatan instalasi penampung sementara limbah yang dibuang melewati desanya tetapi tidak diberikan sampai sekarang.
” Kami sudah mengajukan anggaran sebenarnya untuk pembuatan instalasi penjernih limbah sebelum dilepas lagi ke sungai agar tidak merusak tanaman pertanian unggulan desa kami selada air. Dengan adanya ini kami pun dirugikan yang jelas,” ungkapnya.
Pihaknya meminta penanganan limbah kotoran sapi yang dibuang ke sungai tuntas. Jangan hanya saat diprotes saja tak dibuang ke sungai, setelah reda kembali lagi dibuang ke sungai.
“Sungai ini dimanfaatkan 7 desa di bawah untuk pengairan sawah, yaitu desa kami Pacalan, Sidorejo dan Sendang Agung kemujan Durenan, Sambirobyong, Kalang dan Campursari. Yang paling parah ya kami, tanaman selada air kami rusak dan mati,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-magetan”]
Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Magetan Said Mukhlisun saat dikonfirmasi menyarankan untuk ke Dinas Peternakan. Dia berdalih permasalahan tersebut karena menyangkut teknis kebiasaan peternak.
Sementara itu Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan Nur Haryani mengaku kesulitan merubah budaya masyarakat Singolangu.
” Terus terang kami kesulitan merubah budaya masyarakat Singolangu. Upaya sudah maksimal, dari mulai pembinaan, pendampingan, sudah dibangunkan rumah pupuk juga,” terang Nur Haryani. (fiq/ted).






