Surabaya (beritajatim.com) – Tim Dosen Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Salah satu caranya, yakni dengan memberikan berbagai pelatihan di Sekolah Sungai, Gunung Anyar Tambak, Surabaya.
Sekolah tersebut merupakan sekolah informal yang memang didirikan untuk menciptakan sustainable bagi lingkungan. Mengingat, sekolah tersebut berdekatan dengan kawasan mangrove di wilayah timur Surabaya.
“Sekolah ini didirikan Bu Chusniyati. Waktu itu beliau yang mempelopori bank sampah di daerahnya. Kemudian karena wilayahnya di kawasan mangrove, akhirnya berkembanglah mendirikan Sekolah Sungai itu,” ujar Ketua Tim Dewi Pertiwi, Senin (27/11/2023).
Sesuai namanya, Sekolah Sungai ini letaknya di bantaran sungai setempat. Karena statusnya sebagai sekolah informal yang hanya aktif satu kali dalam seminggu, berbagai kekurangan pun tak terhindarkan. Sehingga, diperlukan adanya peningkatan kualitas layanan sekolah.
“Pengajarnya dari para relawan. Mereka ini sebisanya ketika mengajar, karena memang bukan dari background pendidikan. Dari situlah, kami melihat ada beberapa kebutuhan di sana. Kemudian kami mengadakan beberapa kegiatan pelatihan,” jelas Dewi.

Ada sejumlah pelatihan yang diberikan oleh tim kepada para relawan. Antara lain pelatihan terkait psikologi perkembangan anak usia 0-12 tahun, pelatihan mengajar kreatif, edukasi kesehatan gigi bagi siswa, hingga pelatihan manajemen sekolah bagi pengelola.
“Kami juga membuatkan bahan ajar untuk anak-anak. Ada juga 4 buku bertema mangrove. Tujuannya, mereka yang tinggal di sana mengerti pentingnya hutan mangrove dan bagaimana sejak dini harus terlibat, dan aware terhadap lingkungan,” bebernya.
Dewi berharap, lewat berbagai pelatihan tersebut, kompetensi para relawan dapat meningkat. Sedangkan bagi siswa, diharapkan mampu memahami jika mereka adalah bagian dari upaya pelestarian mangrove.
“Untuk masyarakat luas, kami berharap penelitian ini juga terdengar bahwa ada sekolah informal yang aware terhadap lingkungan. Nantinya, itu akan menggugah sekolah formal dalam pelestarian lingkungan,” tuturnya.
Baca Juga:
UK Petra Surabaya Suguhkan Bisnis Unik di Manbision Festival 5.0 x Mr Market
Di kesempatan sama, anggota tim Dani Puspitasari mengungkapkan, Sekolah Sungai yang hadir sejak Oktober 2018 itu kini setidaknya telah memiliki 75 anak didik dengan dua kelompok usia, yaitu prasekolah dan sekolah dasar.
Hanya saja, lanjut dia, sekolah itu tak memiliki modul ajar, tenaga pengajar yang terbatas pengetahuannya hingga fasilitas pengajaran yang kurang mendukung.
“Melihat ini kami tergerak untuk membantu, mulai dari pelatihan guru, mengajar kreatif hingga manajemen sekolah. Kemudian modul ajar juga kami berikan termasuk beberapa fasilitas pengajaran,” kata Dani.
Sedangkan Chusniyati, penggagas Sekolah Sungai menyebut jika pelatihan-pelatihan yang diberikan di sekolahnya telah berjalan dengan baik.
“Aktifitas ini sangat baik untuk perkembangan pendidikan di Sekolah Sungai. Apalagi memberi ilmu tak hanya pada anak didik saja, akan tetapi juga pada guru voulenter. Kami sangat senang sekali,” kata Chusniyati.
Perlu diketahui, kegiatan yang digagas oleh dosen dan mahasiswa UK Petra ini merupakan hasil dari Program Hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) Kemeristek Dikti senilai Rp 43,500 juta.
Adapun tim dosen terdiri dari Dewi Pertiwi SE, MM, Dani Puspitasari SPd, MA, PhD, dan Mega Ekklesia Putrihadi SSn, MM. Mereka dibantu tiga mahasiswa yaitu Che-Che Chuan Racwelling Manu (PGSD), Jessica Geovani (Finance and Investment), dan Stephanja Char Ayu Lestari (DKV). (adv/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”surabaya”]






