Malang (beritajatim.com) – Sebanyak 90 siswa kelas XI MAN 2 Malang resmi dilantik menjadi Agen Green Student guna memperkuat komitmen madrasah sebagai Sekolah Adiwiyata. Pengukuhan ini menjadi bagian dari program bertajuk “Ekoliterasi: Membangun Narasi Keberlanjutan di MAN 2 Malang” yang berlangsung di Aula Madrasah, Jalan Mayor Damar, Turen, Kabupaten Malang.
Program yang diinisiasi oleh Jurnalis beritajatim.com, Muhammad Afnani Alifian, ini berhasil terealisasi berkat dukungan pendanaan program Sustainability Fellowship CIMB Niaga dengan total dana Rp10.000.000. Agenda strategis ini juga didukung penuh oleh The Indonesian Institute of Journalism (IIJ) dengan masa pelaksanaan mulai Juli hingga akhir Agustus 2026.
Inisiator acara sekaligus Jurnalis beritajatim.com, Muhammad Afnani Alifian, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa program ini hadir sebagai respons atas pentingnya menumbuhkan kesadaran lingkungan lewat pendekatan yang kreatif. Pihaknya sengaja menggandeng para siswa kelas XI untuk meruntuhkan cara pandang antroposentrisme yang kerap membuat manusia merasa sebagai penguasa mutlak bumi.
“Mengingat kembali apa yang disampaikan oleh Ibu Kepala Sekolah saat koordinasi via Zoom sebelumnya, lembaga ini memang tengah merintis dan memperkuat wujud Sekolah Adiwiyata. Bagi MAN 2 Malang, Adiwiyata bukanlah sekadar program yang dicanangkan lalu selesai begitu saja. Lebih dari itu, Adiwiyata adalah tentang tingkah laku, perilaku, dan bagaimana lingkungan yang hijau serta lestari harus benar-benar teraplikasi dalam keseharian para siswa,” kata Afnani dalam sambutannya saat workshop pada Rabu (15/7/2026).
Afnani menambahkan, dengan luas area madrasah yang mencapai 6.789 meter persegi, banyak sekali dinamika aktivitas harian yang mengonsumsi energi, air, dan menghasilkan sampah. Melalui proyek edukasi berbasis Project Based Blended Learning (PjB2L) ini, para siswa tidak hanya diajarkan teori, melainkan dilatih kepekaan emosionalnya melalui jembatan sastra ekologis atau ekokritik.
“Keresahan ekologis kalian akan kita kurasi untuk diterbitkan menjadi sebuah E-Book Antologi sastra ekologi. Kalian nanti juga akan kami ajarkan mengenai kampanye pesan kelestarian tersebut melalui media sosial Instagram yang tujuannya memantik teman satu angkatan bahkan lintas angkatan untuk tergerak. Namun ingat, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mulai besok pagi kalian mampu menerapkan gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) secara konsisten dari hal-hal sederhana,” imbuh Afnani.
Kepala MAN 2 Malang, Titien Sumartin, S.Pd., menyambut baik dan mengapresiasi penuh inisiatif literasi hijau ini. Dalam sambutan pembukaannya, Titien menegaskan pentingnya melibatkan fungsi otak dan keaktifan berpikir para siswa agar proses belajar tidak menjemukan dan mampu membawa dampak jangka panjang terhadap karakter siswa.
“Alhamdulillah, saya bersyukur kita mendapatkan kehadiran nilai lebih di pagi hari yang dingin ini untuk melaksanakan kegiatan raksasa berbasis sastra ekologis. Harapan saya, program literasi ini bisa memacu generasi Z sekarang yang cenderung lebih menyukai hal-hal instan. Lewat penyajian materi yang menarik, judul yang menarik, ini akan membagikan minat mereka untuk berliterasi,” papar Titien.
Lebih lanjut, Titien juga mengingatkan para Agen Green Student mengenai lima prinsip cinta universal yang harus tertanam dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari demi menunjang keberlanjutan lingkungan.
“Kita berbicara tentang lima cinta. Satu, cinta kepada Allah dan Rasul. Dua, cinta kepada ilmu. Tiga, cinta kepada diri sendiri. Empat, cinta kepada lingkungan, dan lima, cinta terhadap tanah air. Nah, ini selain dihafalkan juga harus benar-benar diterapkan,” tegas Kepala MAN 2 Malang tersebut.
Guna memberikan fondasi teoretis dan aplikatif yang kokoh bagi para siswa dalam menulis karya sastra bertema lingkungan, workshop ini menghadirkan akademisi sekaligus pakar sastra, Ahmad Junaidi, S.S., M.A. Dalam pemaparannya, Ahmad mengulas tuntas esensi sastra ekologis serta membedah empat prinsip dasar ekoliterasi yang digagas oleh pemikir Fritjof Capra.
“Ecocriticism sebagai sebuah metode kritis dalam penelitian sastra dan lingkungan mencoba merangsang tumbuhnya minat para pengarang untuk peduli terhadap lingkungan hidup melalui karya mereka. Sastra hijau bukan semata sastra yang bercorak romantisme yang sekadar memuja keindahan atau senja. Lebih dari itu, jenis apocalyptic dan precautionary tale dipandang memiliki efektivitas fungsi dari tujuan yang hendak dicapai,” urai Ahmad Junaidi.
Ia menambahkan, karya sastra baik berupa puisi maupun prosa mampu menjadi alat efektif untuk mendefinisikan kembali corak ekologi yang cenderung klise dan tidak relevan dengan isu lingkungan modern. Menurutnya, mempelajari ekokritik membuka ruang interdisipliner yang mempertemukan sains, sejarah, antropologi, dan spiritualitas.

“Dalam ekokritik, alam tidak selalu harmonis, melainkan memperlihatkan konflik, dinamika, dan ketidakpastian. Alam itu rumit, tidak semua yang hijau lantas serta-merta bisa disebut ekologis,” jelas Ahmad.
Pelaksanaan workshop yang berlangsung interaktif ini memantik antusiasme tinggi dari para peserta. Ragam materi panduan hidup berkelanjutan berbasis SDGs (Sustainable Development Goals), teknis pembuatan kampanye digital, hingga skema penilaian kolaboratif yang melibatkan Guru Bahasa Indonesia dan Guru Sosiologi membuat suasana belajar menjadi sangat hidup.
Salah satu siswa kelas XI MAN 2 Malang yang menjadi peserta, Muhammad Ridho In’amulloh, mengaku terkesan dengan metode penyampaian materi dari para narasumber. Penggunaan variasi media menurutnya membuat topik yang berat menjadi mudah dicerna.
“Menurut saya rangkaian workshop hari ini seru dan menyenangkan. Penyampaiannya sangat mudah dipahami dan materinya menarik sekali untuk didengarkan. Mungkin ke depan bisa ditambah ice breaking dan ilustrasi gambar pada setiap pencontohan yang diberikan pemateri agar kita lebih cepat mengerti apa yang dimaksudkan,” ungkap Ridho.
Senada dengan Ridho, siswi kelas XI lainnya, Alfara Meilingga Mulyono, menilai bahwa konsep ekoliterasi yang diajarkan sangat relevan dengan realitas kehidupan remaja masa kini.
“Materi yang dibagikan hari ini sangat aplikatif dan bisa langsung kami praktikkan di lingkungan sekolah maupun rumah,” kata Alfara singkat.
Pasca-workshop ini, pada minggu pertama Agustus 2026 akan dilakukan proses kurasi naskah cerpen dan puisi siswa yang diunggah melalui Google Drive. Selanjutnya, karya tulis terbaik serta konten Instagram edukatif berkinerja visual paling unggul akan diapresiasi dengan voucher ShopeePay dan sertifikat.
Modul fisik dari proyek ini juga akan diwariskan kepada guru sosiologi dan bahasa Indonesia sebagai materi ajar reguler, sedangkan para Agen Green Student berkomitmen menularkan wawasan ekologis ini kepada adik tingkat melalui forum internal secara berkelanjutan. (dan/aje)






