Jember (beritajatim.com) – Selama masa pandemi, pembelajaran tatap muka di sekolah diganti dengan model daring. Hal ini memunculkan banyak kendala dan kesulitan pada kalangan orangtua dan siswa.
“Sebenarnya dulu kita pernah dengar mau ada sekolah offline, ganjil dan genap, bergantian. Tapi karena ini klaster (penularan penyakit) keluarga, risikonya besar, kita sepakat online dulu. Tapi saya kira harus ada support dari guru-guru kita kepada orangtua yang kewalahan mendidik anaknya pakai online,” kata Mashuri Harianto, anggota Panitia Khusus Covid-19 DPRD Jember, Jawa Timur.
[berita-terkait number=”5″ tag=”DPRD-jember”]
“Sudah banyak di Tiktok, (kesulitan orangtua) jadi lucu-lucuan. Kita ketawa memang. Tapi sesungguhnya anak menderita secara psikis, orangtua juga tidak kalah menderitanya. Saya ingin kita mendengar guru, mendengar kepala sekolah supaya ada solusi anak-anak ini agar sempat ketemu dengan teman-temannya. Mulai mendaftar sampai sekarang mereka tidak kenal temannya,” kata Mashuri.
Mashuri ingin psikologi anak sebagai pelajar ditanyakan kepada psikolog. “Jangan-jangan kita memberi virus kebodohan pelan-pelan,” katanya. [wir/kun]






