Ardi Pujo Prabowo, legislator DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mengakuisisi tiga klub sepak bola amatir lokal. Mantan pemain sepak bola ini ingin mengembangkan Jember melalui cabang olahraga terpopuler di Indonesia tersebut.
Tiga klub itu, yakni Panser Mandiri, Bina Bola, dan PS Tunas, diakuisisi pada 2014-2015. “Saya diajak teman-teman untuk mengakuisisi sejumlah klub yang tidak aktif untuk mengembangkan persepakbolaan Jember,” kata Ardi, Jumat (12/4/2024).
Klub pertama yang diakuisisi adalah Panser Mandiri yang berkandang di Kecamatan Panti. Ardi mengubah namanya menjadi Perselo (Persatuan Sepak Bola Lojejer) dan memindahkannya ke Desa :Lojejer, Kecamatan Wuluhan.
Tak hanya mengubah nama dan memindahkan markas, Ardi juga menyiapkan pembinaan pemain muda selama tiga tahun di klub tersebut. “Kebetulan saya mantan pemain sepak bola. Jadi saya sendiri yang melatih teknik hingga fisik mereka,” katanya.
Hasilnya pada 2018, Perselo berhasil menembus final turnamen Piala Bupati Jember dan menjadi runner-up. Saat ini Perselo berada di level Divisi Utama kompetisi internal Asosiasi Kabupaten PSSI Jember.
Klub lainnya, Persatuan Sepak Bola Tunas berubah nama menjadi Tunas Muda dan bermarkas di Kecamatan Balung. Tunas Muda semula berada di Divisi II kompetisi internal PSSI Jember, dan saat ini berada di Divisi I.
“Proses akuisisinya hampir sama. Cuma untuk Tunas Muda ini saya melibatkan teman-teman mantan pemain Persid Jember, sehingga ilmu yang mereka punya bisa bermanfaat,” kata Ardi.
Mereka yang sejak awal meminta Ardi turun tangan langsung dalam pembinaan sepak bola. “Saya memberikan ruang kepada mereka untuk membina pemain, dan alhamdulillah sekarang sudah berada di Divisi I,” kata Ardi.
Klub lainnya, Bina Bola, saat ini berada di Divisi II kompetisi internal PSSI Jember. “Saya akuisisi pada 2015 dan masih belum berganti nama,” kata Ardi.
Sebenarnya memiliki tiga klub sepak bola amatir tidaklah menguntungkan bagi Ardi. “Justru rugi, karena saya harus membiayai. Apalagi pembinaan di internal PSSI Jember minim, sehingga saya harus selalu mengeluarkan biaya, baik besar maupun kecil. untuk klub agar tetap beraktivitas,” katanya.
Klub-klub sepak bola tersebut tak hanya berlatih rutin, tapi juga berlatih tanding. “Saya memfasilitasi. Tranportasinya saya persiapkan,” kata Ardi.
Berapa rupiah yang yang harus dikeluarkan Ardi untuk membiayai tiga klub itu? “Variatif. Kalau tidak ada sparring (latih tanding), hanya biaya untuk air minum. Angkanya ada, tapi tidak semua dari kami. Kadang ada orang tua wali yang bawa (menyumbang),” kata Ardi menolak merinci angka.
Ardi menyebut biaya yang dikeluarkannya tak sebanding dengan kebanggaan yang diperolehnya saat bisa memfasilitasi para pemain muda Jember dalam sebuah klub. “Saat ini di era Generasi Z, hanya dua hal yang bisa mencegah kecanduan anak-anak muda terhadap gadget dan narkoba, yakni pendidikan agama dan olahraga. Kalau kita bisa maksimalkan secara massif, insyaallah ini akan mengurangi tingkat penggunaan narkoba dan ketergantungan terhadap gadget,” katanya.
Ardi ingin membawa para pemain muda di tiga klub itu untuk berprestasi. “Bisa mengangkat nama daerah dan desa, bisa mengharumkan nama keluarga mereka,” katanya.
Ada seorang pemain muda hasil binaan Perselo yang dikelola Ardi sempat direkrut Persik Kediri U17 pada 2018. “Dari tiga orang yang kami kirim untuk seleksi di sana, satu orang lolos. Namanya Bayu,” katanya.
Problem terbesar Ardi dalam membina sepak bola akar rumput adalah kondisi sosial ekonomi pemain. “Begitu lulus SMA atau SMK, mereka tidak aktif lagi di sepak bola karena harus bekerja membantu orang tua, Tapi kalau kami bisa mencarikan mereka pekerjaan seperti menjadi tenaga sekuriti atau pekerjaan lain, mereka masih bisa aktif,” katanya.
Sepak bola akar rumput juga membutuhkan kompetisi yang digelar rutin. Kompetisi menjadi tolok ukur prestasi. “Sebagai pemilik klub, saya melihat belum ada kompetisi resmi yang digulirkan rutin oleh Askab PSSI Jember,” kata Ardi.
Ardi pernah memperkuat klub Indonesia Muda yang menjadi anggota kompetisi internal Persebaya Surabaya. “Setiap tahun di Surabaya selalu ada kompetisi internal, bahkan dengan kategori kelompok usia. Saya menyayangkan belum ada kompetisi internal rutin di Jember, sehingga tidak mengakomodasi talenta-talenta pesepakbola,” katanya.
Ardi ingin kompetisi rutin di Jember digelar berjenjang sesuai tingkat pendidikan, sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Penyelenggaranya tak harus Askab PSSI Jember. “Semacam pekan olahraga dan seni yang digelar Dinas Pendidikan. Kalau itu bisa dilakukan, semangatnya akan luar biasa,” katanya. [wir]






