Madinah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia dipastikan tidak perlu mengurus koper besar setibanya di Bandara Madinah karena Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah menyiagakan layanan bagasi 24 jam yang menjamin barang bawaan tiba di hotel bersamaan dengan kedatangan jemaah. Skema layanan logistik nonsal ini dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi para tamu Allah, sehingga mereka dapat langsung beristirahat atau beribadah tanpa terbebani urusan barang bawaan yang berat.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kesiapsiagaan petugas logistik di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz menjadi kunci kelancaran fase kedatangan gelombang pertama ini. Penanganan bagasi dilakukan secara sistematis mulai dari terminal kedatangan hingga pintu kamar hotel jemaah.
Fitsa Baharuddin, petugas fungsi transportasi Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, menjelaskan bahwa timnya bekerja ekstra untuk memantau setiap koper, kursi roda, hingga tongkat milik jemaah yang keluar dari terminal. Hal ini sangat krusial bagi jemaah lansia dan disabilitas yang sangat bergantung pada alat bantu jalan tersebut.
“Tugas kami adalah menerima barang-barang bagasi berupa koper besar, ada juga koper kecil, kursi roda, tongkat juga ada. Semua barang-barang bagasi itu akan keluar dari gedung ini,” ujar Fitsa saat ditemui di wilayah kerjanya, Jumat (24/4/2026) waktu Arab Saudi.
Pengawasan Ketat Terhadap Porter (Ummal)
Untuk menjamin koper tidak rusak atau tertukar, petugas melakukan pemantauan ketat terhadap para porter atau yang dikenal dengan sebutan ummal. Petugas memastikan setiap barang dipindahkan dengan hati-hati dan didata berdasarkan manifes kelompok terbang (kloter) serta rombongan masing-masing.
“Kita monitor jumlahnya secara lengkap, kemudian kita serah terima dengan bagian distribusinya. Kemudian barang-barang itu akan didistribusikan di hotel. Kita juga memonitor porter-porter atau yang di sini disebut sebagai ummal untuk lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru,” jelas Fitsa.
Akurasi pendataan ini sangat menentukan kecepatan distribusi. Dengan sistem yang sudah terintegrasi, koper yang telah lolos pemindaian otoritas bandara langsung dikelompokkan untuk diangkut menggunakan truk menuju hotel sesuai dengan jadwal bus jemaah.
Tantangan Kedatangan Kloter Bersamaan
Meski sistem telah tertata, dinamika di lapangan tetap menghadirkan tantangan tersendiri, terutama saat beberapa penerbangan mendarat dalam waktu yang berdekatan. Kepadatan jadwal ini menuntut ketelitian tinggi dari petugas dalam menghitung jumlah koper per kloter agar tidak terjadi kesalahan pengiriman.
“Kendalanya itu ketika jadwal penerbangan bersamaan, kita agak kesulitan untuk menghitung barang-barang yang tiba,” ungkapnya.
Namun, kendala tersebut dapat teratasi berkat koordinasi solid antarpetugas dan penggunaan teknologi digital dalam pemantauan logistik. Transformasi layanan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI pada musim haji 2026 ini memang mengedepankan integrasi layanan one stop service. Hal ini pun dirasakan manfaatnya oleh jemaah dari berbagai embarkasi, termasuk rombongan asal Jawa Timur yang terus memadati hotel-hotel di wilayah Markaziyah Madinah.
Fitsa berharap kerja keras tim logistik ini dapat membantu seluruh jemaah, khususnya jemaah lansia, agar tetap bugar dan nyaman selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci. “Mudah-mudahan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, semua jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan baik,” pungkasnya. [ian/but]






