Jember (beritajatim.com) – Laskar Sholawat Nusantara, organisasi kemasyarakatan yang dibentuk dan dipimpin Bupati Muhammad Fawait, ikut mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan program ‘Gerobak Mlijo Cinta’ Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, di Kecamatan Kalisat.
Dalam foto surat undangan yang beredar di WhatsApp, dengan kop PAC LSN dan Srikadi Kecamatan Kalisat, penerima gerobak diminta hadir di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al Hidayah Sal Syaf, Kalisat Tengah, Rabu (4/3/2026), pukul 12.00 WIB.
Penerima bantuan diminta membawa gerobak dan boks pendingin yang dibagikan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Menengah, dalam acara ‘Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penerima Gerobak’.
Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ari Fianto menilai keterlibatan organisasi non pemerintah dalam kegiatan Pemerintah Kabupaten Jember kurang elok.
“Ini menunjukkan tata kelola yang salah dalam pelaksanaan program ini, karena ormas bisa melakukan evaluasi. Mereka siapa dan tugas pokok fungsinya sejauh mana sehingga melakukan monev,” katanya, Kamis (5/3/2026).
Sementara itu, Candra mendapat informasi bahwa Dinas Koperasi dan UMKM juga melakukan kegiatan yang sama di Kecamatan Sukorambi. “Seharusnya karena yang melakukan perencanaan program ini Dinas Koperasi dan UMKM, maka selayaknya mereka yang bisa memonitor keadaan barang dan mengevaluasi program,” katanya.
Candra menganggap ada perlakuan berbeda terhadap pengawasan yang dilakukan DPRD Jember. “Beberapa waktu lalu Komisi B waktu meminta data calon penerima Gerobak dan Mlijo Cinta. Namun Dinas Koperasi dan UMKM pada saat itu tidak bisa memberikan data karena menunggu petunjuk atau perintah dari pimpinan. Yang saya sayangkan kok ormas tersebut punya data penerima,” katanya.
Ketua LSN Jember Abdullah Waid menegaskan tidak ada kerja sama khusus untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program Gerobak dan Mlijo Cinta. “Ini di Kalisat saja. Di kecamatan lain tidak ada,” katanya.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menangah Jember Sartini juga mengatakan tidak ada kerja sama dengan LSN. “Mereka membantu saja, suka rela membantu,” katanya.
Namun ada perbedaan antara cara monitoring dan evaluasi yang dilakukan LSN di Kalisat dengan yang dikehendaki Dinas Koperasi. Sartini menghendaki agar pemantauan dan evaluasi itu dilakukan dengan cara mendatangi penerima bantuan gerobak satu demi satu.
“Kami berterima kasih dibantu. Tapi alangkah baiknya kalau kami bisa bersilaturahmi langsung ke penerima manfaat,” kata Sartini.
Sartini juga membatalkan kegiatan monev Dinas Koperasi dan UMKM di Sukorambi, karena keliru menerjemahkan perintahnya. “Teman-teman kemudian langsung door to door dan sudah kirim dokumen ke kami untuk dokumentasi. Dokumentasi yang kami minta ke teman-teman itu yang time stand, ada waktu dsan titik koordinatnya,” katanya. [wir]






