Surabaya (beritajatim.com) – Para pengusaha di Jalan Tunjungan, Surabaya, menyampaikan protes mereka terhadap kebijakan larangan parkir Tepi Jalan Umum (TJU) yang berlaku sejak 15 Juli 2025.
Kebijakan ini dinilai sangat merugikan, dengan puluhan kafe dan restoran melaporkan penurunan omset yang tajam.
Sejumlah pemilik bisnis mengeluhkan omset mereka merosot drastis hingga 30 sampai 50 persen. Penurunan ini terjadi karena pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi tidak bisa lagi memarkir kendaraan mereka di sepanjang jalan.
”Save Tunjungan”: Jeritan Pengusaha
Sebagai bentuk protes damai, para pengusaha memasang berbagai poster di jendela kafe dan restoran mereka.
Poster-poster ini memuat tulisan seperti “Save Tunjungan” dan “Satu Tunjungan Satu Tunjungan” untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Banyaknya poster protes berjajar di sepanjang jalan, menciptakan pemandangan yang amat kontras dengan impian Pemerintah Kota Surabaya untuk menjadikan kotanya maju berkeadaban.
Poster-poster berbingkai hitam dan kuning itu bukan sekadar gambar, melainkan cerminan dari jeritan hati para pemilik bisnis yang memohon solusi nyata (terbaik) dari pemerintah.

Marketing Ludic Cafe Tunjungan, Novia, ditemui beritajatim.com menyampaikan bahwa banyaknya kursi kosong dihadapan kami, adalah bukti nyata bisnisnya tidak baik baik saja dan terancam.
“Penurunan omset terjadi sejak 15 Juli, sejak awal ditetapkan (peraturan) itu. Kalau weekend 30 persen penurunan, kalau weekday hampir 50 persen,” ungkap Novia saat ditemui, Senin (18/8) sore.
Setidaknya ada 20 puluh pemilik usaha kafe dan resto di Jalan Tunjungan yang telah mengeluhkan dan menyuarakan protes yang sama. Berharap pemandangan poster tersebut dapat dilihat oleh mata pejabat pemerintah.
“Harapan kami, pemkot melihat poster-poster ini, poster yang telah kami pasang,” kata Novia.
Senada dengan Novia, Kasir Alltime Buns Tunjungan, Maria juga mengatakan penurunan omset bisnisnya menukik tajam, ada pada kisaran 40 sampai 50 persen.
Dia mengungkap, bahwa aksi damai ini bukan lah sekadar soal laba, melainkan juga mewakili suara hati para pegawai dan pengunjung yang lelah enggan berjalan jauh dari tempat parkir resmi dan apalagi luasnya lahan parkir yang terbatas.
“Parkir motor terdekat sering penuh, mobil-mobil juga susah cari tempat parkir. Para pelanggan yang datang jadi mengeluh, parkirku jauh, seperti itu,” terang Maria.
Aksi Hening Padamkan Lampu 1 Jam
Untuk mengetuk hati pemerintah, aksi lainnya pun turut dilakukan oleh pemilik kafe dan resto. Yaitu aksi protes hening dengan memadamkan seluruh lampu selama satu jam penuh, menciptakan suasana seperti kota mati.
“Semacam aksi solidaritas. Kemarin juga lampunya sempat dipadamkan satu jam, sebagai tanda protes,” imbuh Maria.
Di balik tawa dan obrolan yang dulu mengisi kafe dan resto, kini tersembunyi sebuah kesedihan mendalam. Karena kerugian menghantam, para pemilik usaha merindukan masa-masa di mana keramaian adalah berkah, bukan beban.
Mereka berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir, di mana pemerintah hadir sebagai pahlawan memberikan solusi terbaik, salah satunya memberi keleluasaan kembali bagi tamu pengunjung untuk memarkirkan kendaraan di tepi jalan, dan diperketat oleh petugas parkir resmi. (ted)






