Jakarta (beritajatim.com) – Laporan Risiko Global 2024 yang diterbitkan oleh World Economic Forum, Zurich, dan Marsh McLennan menyoroti kekhawatiran para pakar terhadap kemajuan kecerdasan buatan (AI) dalam dua tahun ke depan.
Survei Persepsi Risiko Global (GRPS) yang melibatkan 1.500 pakar global menunjukkan bahwa misinformasi dan disinformasi menjadi risiko yang paling dikhawatirkan dalam dua tahun ke depan, bersama dengan cuaca ekstrem, polarisasi masyarakat, krisis biaya hidup, dan serangan siber.
Teknologi AI menempati posisi kedua yang paling dikhawatirkan di tahun 2024, dan diprediksi menjadi yang paling dikhawatirkan dalam dua tahun ke depan.
Kekhawatiran ini muncul karena semakin maraknya konten AI yang sulit dibedakan dari konten manusia, sehingga menimbulkan tantangan dalam menanggapi informasi yang tidak akurat.
Wayan Pariama, Chief Risk Officer PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, menjelaskan bahwa transformasi struktural dunia yang signifikan dengan AI, perubahan iklim, pergeseran geopolitik, dan transisi demografi membawa risiko dan peluang.
“Tindakan setiap individu, negara, dan perusahaan dapat mengurangi risiko global dan berkontribusi terhadap dunia yang lebih cerah dan aman,” ujarnya.
Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, Ketua Indonesia AI Society dan Associate Professor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai AI dapat diatasi melalui integrasi yang strategis.
“Potensi AI dapat mendorong transformasi industri dan menjadi rekan kolaborasi dalam inovasi dengan manajemen risiko. Dengan merangkul manfaat AI, kita dapat memaksimalkan adopsi teknologinya di berbagai sektor dan memastikan penggunaannya untuk kebaikan perusahaan dan konsumen,” paparnya.
Zurich Indonesia sendiri telah menggunakan AI untuk memberikan layanan dan pengalaman yang lebih baik kepada nasabah, seperti dalam proses akuisisi asuransi kendaraan.
“Kami terus mengembangkan penggunaan teknologi, termasuk optimalisasi peluang melalui teknologi AI,” tutup Wayan. (ted)






