Jombang (beritajatim.com) – Di sudut Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan kuno yang sarat sejarah. Langgar Panggung—demikian masyarakat menyebutnya—bukan sekadar mushola biasa.
Dibangun sekitar tahun 1890-an, langgar ini menjadi saksi bisu perjalanan para saudagar muslim yang melintasi Sungai Brantas dalam perniagaan mereka.
Dulu, kawasan ini belum banyak mengenal Islam. Namun, melalui interaksi dengan para saudagar yang singgah untuk beribadah dan berdagang, ajaran Islam perlahan menyebar di wilayah utara Brantas, Jombang. “Dulu lokasi mushola ini menjadi tempat transit saudagar muslim yang menggunakan jalur transportasi sungai,” ungkap Ainur Rokhim, Takmir Langgar Panggung, Selasa (4/3/2025).
Warisan Sejarah yang Masih Kokoh
Bangunan ini unik karena memiliki dua lantai, meski kini hanya lantai bawah yang digunakan. Lantai atas, yang berbahan kayu, mulai lapuk dan dianggap membahayakan. Langgar ini diyakini didirikan oleh seorang saudagar muslim dari Sidoarjo bernama H. Ibrahim, yang prihatin melihat minimnya penyebaran Islam di daerah ini.
Ia kemudian meminta seorang penyiar agama, Mbah Yunus, untuk menetap di sana dan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
Hingga kini, Langgar Panggung tetap berfungsi sebagai tempat ibadah, terutama saat bulan Ramadan. Saat sholat tarawih, jamaah memenuhi bangunan kuno ini, menjadikannya sebagai ruang spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Keaslian arsitektur tetap dipertahankan, mulai dari ubin lantai berbentuk papan catur hingga pintu kayu jati asli yang tak pernah diganti sejak pertama kali dibangun. Bahkan, kunci dan gemboknya masih sama seperti dulu, seakan menjadi penjaga rahasia zaman.
Misteri Ruang Imam yang Ajaib

Salah satu aspek paling menarik dari Langgar Panggung adalah ruang imam yang memiliki tinggi sekitar 190 cm dan lebar hanya 90 cm. Meski terkesan sempit dan pendek, konon imam sholat—tak peduli seberapa tinggi badannya—selalu dapat masuk dengan nyaman.
Fenomena ini disebut warga sebagai ‘mulur mungkret’ atau kemampuan ruang tersebut untuk menyesuaikan diri dengan penghuninya. Hingga kini, ruang imam ini tidak pernah diubah, dan jemaah tetap percaya bahwa keunikan tersebut adalah bagian dari keberkahan langgar.
Tak hanya sebagai tempat ibadah, langgar ini juga diyakini memiliki karomah tersendiri. Banyak orang datang untuk berdoa atau membaca amalan tertentu dengan harapan mendapatkan solusi atas permasalahan hidup mereka. “Sudah banyak yang membuktikan, kalau mereka datang dengan keyakinan dan membaca amalan, masalahnya bisa terselesaikan,” kata Ainur Rokhim.
Langgar Panggung bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat spiritual yang tetap hidup di tengah modernisasi. Di balik bangunan kayunya yang telah menua, tersimpan kisah perjalanan, perjuangan, dan keyakinan yang terus mengalir bersama waktu. [suf]






