Surabaya (beritajatim.com) – Keputusan band punk Sukatani untuk menghapus lagu “Bayar Bayar Bayar” dari semua platform musik dan merilis video permintaan maaf kepada Kapolri menuai perhatian sekaligus mengejutkan publik.
Dalam video tersebut, dua personel band, Alectroguy (gitaris) dan Twister Angel (vokalis), mengungkapkan bahwa lagu yang sempat viral tersebut sejatinya ditujukan kepada oknum polisi yang melanggar aturan, bukan untuk seluruh institusi Polri.
Namun, band ini memilih untuk menarik lagu tersebut setelah mendapat tekanan, meski mereka menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan secara sukarela. Menurut Pakar Budaya Universitas Airlangga (Unair), Puji Karyanto, keputusan Sukatani untuk menghapus lagu mereka sangat disayangkan.
“Menurut saya, tindakan tersebut patut diduga terjadi karena adanya intervensi dan tekanan pihak tertentu meskipun dalam pernyataan permintaan maafnya mereka mengklaim itu dilakukan atas kesadaran sendiri dan tanpa tekanan,” kata Puji, Sabtu (22/2/2025).
Ia menambahkan bahwa meskipun diambil secara mandiri, keputusan untuk menarik lagu tersebut justru menunjukkan adanya ketegangan terkait kebebasan berekspresi di dunia seni.
“Take down secara mandiri lagu tersebut dan pernyataan permintaan maaf yang dilakukan duo Sukatani justru menjelaskan hal yang sebaliknya bahwa mereka melakukan hal tersebut karena adanya tekanan dari pihak lain, terutama pihak yang kemungkinan menjadi sasaran kritik dari lirik lagu yang sebelumnya viral,” ungkapnya.
Puji menerangkan, dalam konteks kebudayaan, ekspresi seni seharusnya tidak hanya menyenangkan tetapi juga bermanfaat. Karya seni seperti lagu Sukatani seharusnya dihargai karena tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan kritik yang penting untuk meluruskan masalah sosial di sekitar kita.
Ia menjelaskan bahwa dalam kesenian ada konsep dulce et utile. Yakni, ekspresi seni yang bagus bukan hanya sekadar menyenangkan, tetapi juga memiliki kegunaan.
“Saya pikir secara kebudayaan, apa yang menjadi karya Sukatani adalah salah satu contoh ekspresi seni yang tidak hanya menyenangkan sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki kegunaan karena melalui karya musikalitas yang dihasilkan tersampaikan lirik-lirik kritis yang bermanfaat dalam rangka meluruskan kebengkokan yang terjadi di sekitar kita,” paparnya.
Lebih lanjut, Puji juga mengaitkan kejadian ini dengan fenomena yang lebih besar terkait kebebasan berkarya di Indonesia. Misalnya pembatalan pameran lukisan beberapa waktu lalu.
“Meski dilakukan secara mandiri, take down lagu dan pernyataan permintaan maaf tersebut seakan-akan mengkonfirmasi bahwa kebebasan berekspresi dalam dunia seni kita sedang tidak baik-baik saja, sebagaimana pameran lukisan yang sebelumnya dibatalkan pada saat justru saat ini kita sudah memiliki Menteri Kebudayaan,” paparnya.
Tindakan band Sukatani untuk menarik lagu mereka dari platform musik seakan menjadi bukti bahwa tekanan terhadap kebebasan berekspresi semakin nyata. Meskipun permintaan maaf mereka tampak sebagai keputusan yang diambil secara sukarela, banyak yang menganggapnya sebagai bentuk konfirmasi bahwa kebebasan berkarya sedang terancam. [ipl/beq]






