Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, doktor ilmu komunukasi politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, melihat kubu Amin (Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar) tengah dilanda euforia, yang mengingatkannya pada kisah Perang Uhud.
Menurut Iqbal, euforia ini terlihat terutama saat Amin mendaftarkan diri sebagai peserta pemilihan presiden dan wakil presiden. “Mungkin ibarat buka puasa, bisa mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum jadi peserta adalah azan kemenangan yang mewarnai euforia,” katanya, Jumat (20/10/2023).
Hal ini bisa dipahami mengingat jauh-jauh hari sejumlah kalangan meragukan Anies Baswedan dan Muhaimim Iskandar bakal bisa mencalonkan diri menjadi presiden dan wakil presiden. Salah satunya adalah mantan politisi Partai Nasional Demokrat, Zulfan Lindan. Bahkan, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Jumat (24/6/2022), pendiri lembaga survei Cyrus Network Hasan Nasbi siap bertaruh mobil Alphard jika Anies bisa mendaftarkan diri menjadi capres.
Euforia juga tercermin dari pidato Anies Baswedan usai mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum, Kamis (19/10/2023). “”Hari ini kita berkumpul di sini, mohon maaf karena kami telah mengecewakan, mohon maaf kami mengecewakan mereka yang pesimis dan menduga kami tidak bisa mendaftar,” katanya.
“Saya kira wajar saja euforia ekspresi syukur yang tumpah dari pendukung Amin ini ketika sudah resmi terdaftar jadi peserta pilpres. Hanya saja sudah seharusnya ekspresi seolah pasangan itu sudah menang tidak perlu berlebihan,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, gelombang dukungan yang terus datang dan membanjiri setiap safari politik seperti di Makassar, Bandung, Malang, dan Sidoarjo semestinya tidak membuat para pendukung Amin lengah dan seolah kemenangan sudah diraih.
Perasaan menang sebelum bertanding ini, menurut Iqbal, berbahaya. “Jangan sampai kisah Perang Uhud berulang. Jangan sampai lalai, abai, dan larut atas kemenangan sesaat ini,” kata Iqbal.
Perang Uhud adalah sebuah perang pada masa Nabi Muhammad yang sebenarnya nyaris dimenangi kaum muslimin. Namun saat itu, kaum muslimin yang diperintahkan untuk tetap berjaga di perbukitan hingga musuh dipastikan terusir, ternyata melanggar perintah karena merasa sudah menang. Ketidakdisiplinan ini yang akhirnya berbuah kekalahan.
Pertarungan paling sengit tentu saja memperebutkan kantong suara nahdliyyin. “Peluang tiga poros koalisi merebut suara nahdliyin saya kira masih paling besar ada di Koalisi Perubahan, di mana pasangan Anies mendapatkan sokongan total dari Muhaimin lewat jaringan solid mesin politik PKB di seluruh Indonesia terutama di Jawa,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, masuknya Muhaimin Iskandar menjadi sekondan Anies mengubah peta politik pemilihan presiden. “Kartu-kartu tokoh atau kader Nahdliyin yang semula meredup, kini hidup dan kinclong, lagi pasca pasangan Amin mendeklarasikan diri sebagai kontestan,” katanya.
Terpilihnya Mahfud MD menjadi pendamping Ganjar Pranowo menunjukkan betapa pentingnya posisi NU dalam pemilihan presiden. Namun berbeda dengan Mahfud, menurut Iqbal, Muhaimin memiliki keunggulan sebagai tokoh nomor satu PKB yang hingga sejauh ini terlihat semakin solid. “Saat safari politik,warganet PKB membanjiri aneka rupa lini media sosial untuk menggelorakan arus politik harapan perubahan,” katanya.
Soliditas kubu Amin ini bisa terganggu oleh euforia berlebihan. Iqbal mengatakan, pertarungan pemilihan presiden masih jauh dari selesai. Kemenangan baru bisa dipastikan setelah pemungutan dan penghitungan suara dilaksanakan pada 14 Februari 2024. “Perjalanan dan perjuangan masih rumit melelahkan dan panjang. Stamina politik tetap harus dijaga jangan lengah dan kendor,” jelasnya. [wir]






