Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat komitmen dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM). Salah satunya melalui pertemuan penguatan forum kemitraan ATM yang digelar di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri.
Kegiatan ini bertujuan mendukung tercapainya target eliminasi HIV/AIDS, TBC, dan malaria di Kota Kediri pada tahun 2030. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr Muh. Fajri Mubasysyir menjelaskan, penanganan ketiga penyakit menular tersebut tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas instansi dan elemen masyarakat.
“Sesuai amanat Perpres Nomor 67 Tahun 2021, eliminasi TBC membutuhkan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, koordinasi percepatan, serta partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, jejaring, kemitraan, dan kolaborasi adalah kunci untuk menuntaskan penyakit ATM. Berdasarkan data Dinas Kesehatan hingga triwulan pertama 2025, terdapat 2.780 kasus HIV/AIDS di Kota Kediri. Rinciannya, 2.247 penderita HIV dan 533 penderita AIDS. Sementara penderita TBC tercatat 393 orang dan satu kasus malaria yang merupakan kasus impor dari luar daerah.
“Ini data kumulatif karena penderita HIV/AIDS tidak bisa sembuh, sehingga tidak dihitung sebagai kasus baru per tahun. Untuk malaria, penderita terpapar dari luar wilayah Kota Kediri,” jelasnya.
Saat ini hampir seluruh rumah sakit dan puskesmas di Kota Kediri telah membuka layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV/AIDS, serta layanan pengobatan TBC dan malaria. Namun masih ada tantangan seperti stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), serta belum semua ODHIV memulai pengobatan ARV.
“Sudah hampir semua rumah sakit di Kota Kediri ada layanan pengobatan HIV/AIDS. Sehingga jika ada temuan penderita yang positif bisa langsung ditindaklanjuti,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dr Fajri menyebut pihaknya akan memperluas kolaborasi dengan komunitas dan kader kesehatan. Langkah ini bertujuan memberikan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan kepada masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan penyakit ATM. Strategi lainnya meliputi percepatan akses ARV untuk ODHIV temuan baru, penambahan layanan PDP di puskesmas, serta pelatihan komprehensif tata laksana HIV dan IMS untuk tenaga kesehatan.
“Secara masif kita juga akan memberikan edukasi, sosialisasi untuk mencegah HIV/AIDS dengan melakukan hubungan yang sehat. Kita juga melakukan promosi pencegahan dan pemberian pengobatan ATM,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan Asosiasi Dinas Kesehatan, drg. Rahayu Kusdarini menyatakan bahwa pihaknya ditugasi Kementerian Kesehatan dan Kemendagri untuk mendampingi 248 kabupaten/kota di Indonesia, termasuk 27 daerah di Jawa Timur, guna menyukseskan target eliminasi penyakit ATM pada 2030.
“Untuk menyelesaikan penyakit menular harus menemukan kasus sebanyak-banyaknya kemudian dilakukan penanganan. Kita dorong dan fasilitasi daerah untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahannya,” ujar drg Rahayu.
Kegiatan ini telah berlangsung sejak awal pekan dan dihadiri perwakilan direktur rumah sakit, kepala OPD terkait, camat, lurah, puskesmas, perbankan, hingga pimpinan organisasi keagamaan di Kota Kediri. [nm/beq]






