Kediri (beritajatim.com) – Setelah Hari Raya Idul Fitri berakhir, inflasi month-to-month (m-to-m) Kota Kediri pada April 2025 tercatat sebesar 1,33 persen. Inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 1,23 persen dan inflasi year-to-date (y-to-d) mencapai 1,20 persen.
Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkot Kediri, Tetuko Erwin Sukarno, menjelaskan bahwa bulan April merupakan masa terakhir dari dampak kembalinya tarif listrik ke harga normal.
“Meskipun diskon 50 persen tarif listrik berlaku di Bulan Januari dan Februari, namun konsumen pengguna listrik pasca bayar baru mengalami kenaikan pembayaran di awal Bulan April, sehingga kembalinya tarif ke harga normal ini berakibat pada inflasi bulanan,” ujarnya, pada Senin (5/5/2025).
Erwin menambahkan, Kota Kediri menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi di Jawa Timur pada April. Hal ini disebabkan karakteristik pengeluaran warga Kota Kediri yang relatif tinggi untuk konsumsi listrik.
“Kota Kediri menjadi daerah dengan inflasi month to month tertinggi di Jawa Timur pada Bulan April ini, hal ini disebabkan karena warga Kota Kediri sesuai survey biaya hidup (SBH) yang dilaksanakan BPS tahun 2022 secara umum memiliki proporsi belanja biaya listrik yang tertinggi di Jawa Timur jika dibandingkan dengan kota-kota yang diukur Indeks Harga Konsumen (IHK), rata-rata warga Kota Kediri memiliki proporsi pengeluaran untuk membayar biaya listrik sebesar 5,2 persen dari total belanja bulanan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” paparnya.
Selain tarif listrik, Erwin menyebut harga emas perhiasan dan kelapa turut menjadi faktor pendorong inflasi.
“Secara umum sebenarnya faktor pendorong Inflasi terbesar Bulan April hanya di tarif listrik, emas perhiasan yang harganya memang cenderung naik karena permintaan secara global, dan kelapa, sementara harga komoditas bahan pokok lainnya sedang turun harga karena berakhirnya lebaran,” ungkapnya.
Ia menambahkan, fenomena penurunan tekanan inflasi pasca lebaran adalah siklus tahunan.
“Fenomena turunnya tekanan inflasi setelah lebaran biasanya memang terjadi setiap tahun pada periode-periode sebelumnya. Konsumsi masyarakat yang mulai menurun seiring berakhirnya bulan Ramadhan dan lebaran merupakan fenomena tahunan,” lanjut Erwin.
Selama bulan April, sebagian besar komoditas bahan pokok seperti beras, daging ayam, telur, dan cabai rawit justru mengalami penurunan harga.
Pemerintah Kota Kediri pun tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga. “Pemerintah Kota Kediri bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah atau TPID akan terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga bahan pokok, agar dapat meringankan beban masyarakat,” tutup Erwin. [nm/aje]






