Jember (beritajatim.com) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) mengincar peringkat 13 dalam perolehan medali Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur IX di Malang Raya, medio Juni-Juli 2025.
Sebelumnya dalam Porprov VIII di Sidoarjo, kontingen Jember menduduki peringkat 15 dari 38 kabnupaten dan kota dalam perolehan medali.
“Dari peringkat 15 mungkin bisa peringkat 13. Mudah-mudahan dengan kejutan dari sejumlah cabang olahraga baru (peringkatnya) bisa mendekati satu digit,” kata Wakil Ketua KONI Jember Soetriono, ditulis Kamis (8/5/2025).
Kendati dalam Porprov Jatim VII, kontingen Jember berhasil menembus sepuluh besar, namun dengan kondisi saat ini, Soetriono tidak mau terlampau tinggi memasang target. KONI memasang target optimistis 26 medali emas, 26 perak, dan 29 perunggu. Sementara target pesimisnya 21 emas, 22 perak, dan 25 perunggu.
Efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember ikut berdampak pada alokasi anggaran persiapan menuju porprov tahun ini. Ada 488 atlet yang diajukan para pengurus cabor untuk diberangkatkan. Namun APBD hanya bisa membiayai 252 orang.
Keterbatasan anggaran juga membuat pemusatan latihan atau training center (TC) tahun ini tidak maksimal. “Kami ingin sebetulnya mengulang persiapan pada 2021. TC-nya 16 kali tatap muka selama dua bulan. Tapi karena efisiensi, ya kita terima lima kali tatap muka. Kami menganjurkan kepada masing-masing pengurus cabor agar melakukan TC mandiri,” kata Soetriono.
KONI Jember menargetkan perolehan 81 medali dari 35 cabang olahraga yang resmi dibiayai daerah. Sebelumnya, menurut Soetriono, kesempatan kontingen Jember memperoleh medali dalam Porprov VII adalah 63 persen dan 58,9 persen dalam Porprov VIII.
Penurunan ini dikarenakan berkurangnya jumlah atlet Jember yang mengikuti Porprov VIII hingga 50 persen. “Nah, pada 2025 ini kami mempunyai prediksi berpeluang memperoleh 41 persen dari jumlah medali yang direbutkan. Dan insyaallah kami optimistis,” kata Soetriono.
KONI Jember sudah memetakan persaingan antardaerah. “Tuan rumah itu pasti, tidak bisa diutak-atik lagi. Dia pasti akan All out,” kata Soetriono.
Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Gresik. Sidoarjo, Kota Kediri, Mojokerto, dan Pasuruan terlalu kuat.
“Yang bisa bersaing dengan kita adalah Lumajang, Bangkalan, dan Kota Madiun. Kalau kita bisa mengalahkan Lumajang Bangkalan, Kota Madiun, insyaallah kita bisa di posisi 10. Ini prediksi saja,” kata Soetriono.
Ada sejumlah cabor yang mengalami pasang surut prestasi, dari cabor unggulan yang meraih medali pada Porprov 2022 menjadi non unggulan karena gagal meraih medali pada 2023. “Tinju dan sepak bola yang pada 2022 meraih medali emas, pada 2023 tidak dapat medali,” kata Soetriono mencontohkan.
Pasang surut juga dialami cabor karate. “Kami kira karate itu masih mendulang emas. Tapi ternyata pada 2023 tidak. Gitu. Begitu pula paralayang dan pentaque. Pentaque luar biasa pada Porprov 2022. Setelah itu tidak bisa meraih medali. Atletnya diambil daerah lain,” kata Soetriono.
Jember kehilangan potensi emas dari cabor drum band yang memilih tidak mengirimkan atlet. KONI Jember akhirnya mendistribusikan kuota 30 atlet yang semula diperuntukkan drum band ke cabor lain yang berpotensi mendulang medali.
Namun di lain pihak, ada cabor baru yang berpeluang memperoleh medali. “Salah satunya adalah tarung bebas. Kita kasih kuota. Karena datanya ada. Kejuaraannya juga ada,” kata Soetriono.
Cabor bermotor juga diharapkan mendulang medali. “Ini atletnya sudah dikontrak Yamaha dan berlatihan di Jogja. Kebetulan orangtuanya pengurus cabor,” kata Soetriono.
Selain itu ada cabor-cabor yang berkembang dan menjadi unggulan, seperti berkuda, balap sepeda, bola sodok, basket, dan futsal. Bahkan cabor berkuda, menurut Soetriono, berani membiayai sendiri persiapan dan pemberangkatan atlet.
“Satu kuda itu diawasi empat orang: jokinya, pelatihnya, penjaganya, dan semacama tukang pijatnya. Ini luar biasa. Penjaga kandangnya pada waktu porprov itu sehari Rp 400 ribu. Hotel kudanya ada,” kata Soetriono tersenyum.
Dance sport kini menjadi cabor yang paling diunggulkan untuk mendapat medali setelah drum band tidak mengirimkan atlet. Ada 18 atlet yang akan bertanding memperebutkan 63 medali emas, perak, dan perunggu. [wir]







1 Komentar
Gak ada drumband, jember bakalan tambah nyungsep,,,liat aja nanti