Jombang (beritajatim.com) – Gemuruh musik akan membahana di Stadion Merdeka Jombang, Sabtu–Minggu, 19–20 Juli 2025. Para penonton disuguhi penampilan Dewa 19, NDX AKA, Nidji, Vierratale, hingga Hadad Alwi dalam gelaran Dialog Cinta Festival Vol 3.
Namun, di balik sorak-sorai itu, ada jerit hati yang tak terdengar—jerit para pedagang kaki lima yang sehari-hari menggantungkan hidup di sekitar Stadion Merdeka Jombang.
“Saya sudah 11 tahun jualan cilok di sini. Tiap ada acara, ya pasti kami yang disuruh minggir,” tutur Neneng (62), matanya menatap kosong ke arah lapangan yang kini dikelilingi pagar besi dan garis steril.
Hari itu, bukan hanya dagangan Neneng yang harus minggir. Harapannya untuk mendapat rezeki lebih dari keramaian konser pun ikut tersingkir. Larangan berjualan datang tanpa banyak pilihan. Penyelenggara bersama aparat keamanan menyterilkan area sekitar stadion demi kenyamanan acara.
Para pedagang hanya bisa mengelus dada. “Kalau ada ruang buat kami jualan, ya kami ikut aturan. Tapi ini? Disuruh libur dua hari, tanpa kompensasi apa-apa,” ucap Neneng lirih.
Ia memang sempat diminta pindah ke seberang lampu merah. Tapi bagi Neneng, itu bukan solusi. “Percuma, enggak ada yang beli. Kami ini cuma rakyat kecil. Harusnya ada toleransi,” katanya, pasrah namun getir.
Agung (25), pedagang tahu solet, mengalami nasib serupa. “Dua hari enggak jualan, rugi saya bisa satu setengah juta. Itu buat orang kecil kayak saya berat, apalagi pas Sabtu–Minggu, rame-ramenya,” keluhnya.
Menurut Agung, ada sekitar 50 pedagang kaki lima yang terdampak larangan ini. Ironisnya, toko-toko di sisi barat stadion tetap buka, karena dianggap milik pribadi. Sementara mereka yang setiap hari berjualan di trotoar dan tepi jalan harus menerima nasib—tanpa solusi, tanpa kompensasi.
“Pedagang kios taman stadion katanya dapat ganti Rp250 ribu buat dua hari. Tapi kami, yang di luar pagar ini, ya nol,” tambah Agung.
Di lapangan, sejak Jumat pagi, kios-kios taman stadion terlihat ditutupi pagar pembatas. Di balik pagar, hanya konser yang bersinar. Di luar pagar, puluhan pedagang menahan sesak di dada—mereka memang tidak tampak, tapi suara hati mereka seharusnya terdengar. Festival musik boleh meriah, tapi gemerlapnya membuat suara wong cilik jadi hilang. [suf]






