Jember (beritajatim.com) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Jember menargetkan perolehan 81 medali dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur, di tiga kota Malang Raya, akhir Juni hingga awal Juli 2025.
KONI berharap mendulang 26 emas, 26 perak, dan 29 perunggu dari 252 atlet yang bertanding di 35 cabang olahraga.
Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Jember Soetriono mengatakan, jika target terpenuhi, peringkat Jember dalam perolehan medali bisa mendekati sepuluh besar.
Sebenarnya ada 13 cabor unggulan yang diharapkan bisa menyumbangkan medali adalah drum band, dance sport, wushu, pencak silat, taekwondo, tenis meja, catur, kempo, tenis lapangan, berkuda, panahan, atletik, dan binaraga.
Namun drum band mendadak memilih tidak mengirimkan kontingen. “Soal alasannya, yang berkompeten menjelaskan adalah pengurus cabor drum band. Yang jelas kami berharap mereka ikut. Cabor yang berpotensi mendulang medali sangat kami harapkan,” kata Ketua KONI Jember Sutikno, Sabtu (26/4/2025).
Tidak berangkatnya cabor drum band ke porprov membuat KONI Jember realistis. “Cabor ini lumbung medali. Atlet yang sudah masuk ke tim Pekan Olahraga Nasional sekitar 70 persen, sedang regenerasi masih relatif muda,” kata Soetriono.
Akhirnya KONI menargetkan 15 medali emas, 16 perak, 20 perunggu dari cabor unggulan; 6 emas, 6 perak, 5 perunggu dari cabor pendukung; 2 emas, 3 perak, 2 perunggu dari cabor non unggulan, dan 3 emas, 1 perak, 2 perunggu dari cabor baru.
“Kuota 30 atlet drum band kami distribusikan kepada cabor yang punya potensi medali, baik itu cabor supporting, cabor non unggulan, dan cabor baru,” kata Soetriono. Salah satu cabor baru yang berpotensi meraih medali emas adalah tarung bebas atau mixed martial arts.
Namun kepastian distribusi kuota atlet setiap cabang olahraga yang hendak dikirim masih menunggu hasil prakualifikasi cabor, salah satunya futsal. “Mudah-mudahan futsal lolos,” kata Soetriono.
Di luar 35 cabor yang dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember sebesar Rp 2,9 miliar, KONI membuka peluang bagi cabor yang ingin berangkat ke Malang Raya dengan biaya mandiri.
“Seperti cabor bola tangan. Mereka mengatakan mau mandiri. Semuanya dibiayai sendiri. Ini berarti kan mereka ingin menunjukkan eksis dulu. Kalau eksis berarti nanti bisa masuk cabor unggulan, cabor supporting, maupun non unggulan. Nah, ini yang kita harapkan, cabor-cabor mempunyai pemikiran seperti itu. Jadi tunjukkan dulu prestasi,” kata Soetriono.
Peraih medali dari cabor yang berangkat mandiri akan mendapat penghargaan yang sama sebagaimana atlet dari cabor yang resmi diberangkatkan KONI dengan biaya APBD, yakni Rp 50 juta untuk peraih medali emas, Rp 20 juta untuk peraih medali perak, dan Rp 10 juta untuk peraih medali perunggu.
“Kalau dulu, reward untuk peraih medali dari cabor yang berangkat secara mandiri tidak terkover. Kalau sekarang, punya hak yang sama,” kata Sutikno. [wir]






