Malang (beritajatim.com) – Pemahaman lintas budaya merupakan cara untuk memahami perbedaan budaya di berbagai negara agar terhindar kesalahpahaman. Pemahaman lintas budaya memainkan peran penting dalam berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai negara.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, (UIN Maliki) Malang, Prof. M. Zainuddin, MA saat memberikan sambutan di acara pembukaan seminar dari ICP ke-1 dan ELITE ke-10. International class Program (ICP) UIN Maulana Maliki Malang dan English Linguistic Literature and Education (ELITE) mengadakan konferensi internasional secara hybrid dengan mengusung tema ‘Global Cross Culture Practices’.
Lebih lanjut kata Prof Zainudin, bahasa dan budaya itu tidak dapat dipisahkan. Melalui pemahaman budaya membantu orang untuk mendengarkan, apa yang harus didengarkan dan menafsirkan dalam kerangka pemahaman yang jauh lebih luas.
“Dengan menjadi pendengar yang baik, orang secara alami menjadi komunikator yang baik. Utamanya komunikator lintas budaya,” kata Rektor pada acara yang bertempat di Aula Lt.5, Gedung Rektorat DR. (HC) Ir. Soekarno, Selasa (08/11/2022).

Rektor berharap konferensi tersebut berlanjut untuk hasil yang bermanfaat bagi masyarakat di Indonesia dan dunia. “Saya yakin acara ini dapat menjadi salah satu yang berharga untuk menjawab harapan yang harus kita penuhi. Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda semua, dan berharap Anda akan mengadakan konferensi yang hebat dan tak terlupakan,” imbuhnya.
Prof. Zain, sapaannya merasa bangga kepada Dr. Like Raskova Octaberlina, Direktur ICP UIN Malang dan Ketua ELITE, Prof. Dr. Nur Ali, M.Pd. Dia menyampaikan rasa rasa bangganya pada perwakilan dan panitia penyelenggara konferensi International Class Program (ICP) pertama dan Konferensi Internasional hybrid ELITE ke-10.
“Terima kasih sekali lagi terima kasih atas upaya, dukungan, dan dedikasi Anda semua yang luar biasa untuk membuat konferensi Internasional ini berjalan seperti yang diharapkan,” ucapnya.
Rektor asal kabupaten Bojonegoro itu bahwa ICP di UIN Maliki Malang sudah berjalan sejak tahun 2009 saat beliau mendapat amanah sebagai Dekan di fakultas Tarbiyah. “Seperti yang kita ketahui, bahwa bahasa Inggris sangat, sangat dan sangat penting bagi kita (terutama bagi para akademisi). Salah satu yang paling penting untuk menjadi World Class University) (WCU) adalah bahasa,” tegasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”uin-malang”]
Beruntungnya, UIN Malang telah memberikan penguasaan dua bahasa yaitu Inggris dan Arab (dan juga Mandarin). “Ya, karena kami memiliki siswa internasional dari negara lain (Eropa, Australia, Afrika, Timur Tengah, dan Asia). Website kami memiliki tiga bahasa (Inggris, Arab dan Mandarin), silahkan nanti Anda lihat,” paparnya.
Ada sejumlah narasumber yang dihadirkan pada acara ini. Di antaranya Prof. Dr. Ali Ramdani (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam, Kemenag, Indonesia), Ruchman Basori, M.A (Kasubdit Sumber Daya Manusia, Kemenag, Indonesia), Yaya Sutarya (Atas Pendidikan, KBRI China), Badrus Sholeh, Ph.D (Atas Pendidikan KBRI Riyadh), Dr. Willy Ardian Renandya (Universitas Teknologi Nanyang, Singapura) , Prof. Dr. Siusana Kweldju (Universitas Negeri Malang, Indonesia), dan terakhir Prof Hisyam Al Saghbini (University of Cambridge, Inggris). [dan/but]






