Jember (beritajatim.com) – Organisasi Perguruan Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tengah dilanda konflik internal. Konflik menyusul terpilihnya Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman menjadi ketua.
Firjaun terpilih secara aklamasi dalam pemilihan Konferensi Cabang Pagar Nusa Jember, di Pondok Pesantren Ash-Siddiqi Putra, 5 Juni 2022. Proses terpilihnya Firjaun ini memantik protes dari sejumlah pengurus anak cabang. Mereka mempersoalkan keabsahan caretaker yang dijabat Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur Abdul Muchid dalam menyelenggarakan konferensi tersebut.
“Pak Muchid mengklaim sudah dapat mandat caretaker. Saya tanya, mana surat keputusan Pengurus Pusat yang menunjuk beliau jadi caretaker. Beliau hanya bisa menjawab SK itu dalam bentuk file PDF, tanpa ada wujud fisiknya,” kata Sigit Mustofa, delegasi Pagar Nusa Kecamatan Silo, Senin (4/7/2022).
Pengurus Cabang NU Jember, saat dimintai konfirmasi Sigit, menyatakan tidak tahu-menahu. “Belum ada koordinasi dengan PCNU. Padahal Pagar Nusa ini kan badan otonom NU. Aturannya, dalam carataker ada dua orang perwakilan PCNU, Pengurus Pusat dua orang, dan Pengurus Wilayah satu orang,” kata Sigit.
Sigit semakin terkejut, karena melihat ada nuansa untuk mengarahkan Gus Firjaun terpilih secara aklamasi. “Bagi kami beliau notabene guru kami, tokoh nasional, kok mengurusi Pagar Nusa (Jember)? Bagaimana ya, kok guru kami disuruh mengurusi Pagar Nusa (Jember)? Kan beliau sudah ada lahan yang lebih besar dan luas untuk keumatan,” katanya.
Lagipula, lanjut Sigit, ada aturan di Pagar Nusa bahwa ketua harus pernah menjabat pengurus tingkat ranting, anak cabang, dan cabang. “Paling tidak calon ketua pernah menjabat pengurus dan punya nomor induk anggota,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pagar-nusa”]
Sebagai bentuk protes, sejumlah pengurus anak cabang Pagar Nusa memilih keluar dari ruang rapat saat itu. “Kami ingin membangun Pagar Nusa agar proses kaderisasi berjenjang dan sesuai dengan target organisasi. Kami menyayangkan sikap Pimpinan Wilayah Jawa Timur yang menghilangkah roh kaderisasi di tubuh Pagar Nusa,” kata Sigit.
Konflik sebetulnya berawal saat pemilihan ketua yang terjadi pada Konferesi Cabang Pagar Nusa Jember, 20 Februari 2022, menghasilkan perolehan suara sama kuat. Ada sebelas anak cabang yang mendukung Fathurrosi dan sebelas cabang lainnya mendukung Malik Ibrahim alias Gus Rohim.
Dua kubu tidak ada yang bersedia mengalah. Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur Abdul Muchid kemudian mengambil alih dan mengumpulkan semua peserta konfercab untuk mencari jalan tengah. Hadir juga saat itu Sekretaris Pengurus Cabang NU Jember Abdul Hamid Pujiono dan Wakil Ketua PCNU Jember Akhmad Taufiq.
Akhirnya disepakati bahwa penyelesaian persoalan diserahkan kepada Pengurus Pusat Pagar Nusa. Belakangan, dengan mengatasnamakan diri sebagai caretaker, Muchid menggelar konferensi cabang di Pondok pesantren As-Siddiqi Putra, 5 Juni 2022.
Klaim Muchid yang menyatakan sudah mengantongi surat keputusan caretaker dari Pimpinan Pusat ini dipertanyakan keabsahannya oleh kubu Sigit. Mereka kemudian melayangkan surat ke Pengurus Pusat Pagar Nusa untuk mengajukan gugatan sengketa pemilihan ketua Pagar Nusa Jember, Senin (4/7/2022). Surat tersebut juga diserahkan kepada Wakil Ketua PCNU Jember Akhmad Taufiq.
“Jika dalam dua kali 24 jam tidak ada respons, kami akan melakukan langkah-langkah politik. Bisa saja sesuai aspirasi kawan-kawan, kami akan membentuk pengurus cabang Pagar Nusa,” kata Sigit.
Dimintai konfirmasi, Abdul Muchid menyebut Sigit dan kawan-kawan hanya ingin mengganggu organisasi Pagar Nusa. “Dia hanya mau mempengaruhi orang. Sekarang dia sudah kalah suara. Mengajak orang walkout. Sekarang terus begini. Maunya apa dia itu. Kalau kemudian itu ditanggapi, wong kalah suara kok ditanggapi. Bagaimana? Ini mau membenahi atau mau merusak?” katanya.
Muchid menegaskan, pimpinan wilayah tak punya motif apa-apa selain ingin membenahi kepengurusan di Jember. “Tidak ada kepentingan apa-apa,” katanya.
Muchid juga menyatakan sudah mengantongi surat keputusan caretaker dari Pimpinan Pusat Pagar Nusa. “SK saya ada. Kemarin sudah dibuka, dia (Sigit) mencari-cari,” katanya.
Soal terpilihnya Firjaun menjadi Ketua Pagar Nusa Jember, Muchid menyatakan, tak ada yang dilanggar. “Dia (Gus Firjaun) pendekar. Dia (Sigit) itu cari-cari (kesalahan),” kata Muchid.
Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur akan menjalin komunikasi dengan Pengurus NU Jember mengenai persoalan ini. “Tidak bisa kami meninggalkan NU. Semua pengurus Pagar Nusa harus sering sowan ke kiai. PW ini tidak ada kepentingan apa-apa, tapi bagaimana Pagar Nusa berjalan,” kata Muchid.
[berita-terkait number=”4″ tag=”jember”]
Bagaimana dengan ancaman pembentukan Pengurus Cabang Pagar Nusa Jember tandingan? “Silakan, silakan. Tidak ada orangnya. Berapa orang? Konferensi kemarin sudah sah. Kalau dia mau membuat cabang sendiri silakan saja,” kata Muchid.
Sementara itu, Akhmad Taufiq mengatakan, persoalan yang muncul di Pagar Nusa bukan soal terpilihnya Gus Firjaun. “Tapi soal proses tata kelola, tertib regulasi, dan tertib organisasi (Pagar Nusa) yang harus dituntaskan lebih dulu,” katanya.
Mengenai konflik yang muncul saat Konferensi Cabang 27 Januari, Taufiq menegaskan, PCNU Jember hanya fasilitator. “Kami tidak ikut-ikut, meski konfercab diadakan di aula PCNU,” kata Taufiq.
Surat protes terhadap proses konfercab sudah diserahkan pula kepada PCNU Jember. Namun Taufiq menyatakan, PCNU hanya menerima aspirasi. “Kami tidak dalam kapasitas mengambil keputusan siapa yang sah dan tidak. Biarlah itu proses seadil-adilnya yang akan dilakukan pengurus pusat, termasuk mungkin juga jadi refleksi tata kelola organisasi dalam rumah besar NU,” katanya.
Taufiq membenarkan jika PCNU diundang untuk hadir dalam Konferensi Cabang Pagar Nusa di Ponpes As-sidiqi Putra, 5 Juni 2022. Namun dalam susunan acara tersebut tidak ada jadwal khusus untuk perwakilan PCNU memberikan sambutan. “Atas dasar itulah kemudian teman-teman memutuskan untuk tidak hadir,” katanya.
“Setelah kami cek, SK caretaker sampai tanggal 2 Juni 2022 juga belum kami terima. Semestinya pengurus pusat menerbitkan SK caretaker secara resmi dan kami mendapatkan tembusan, termasuk pengurus anak cabang,” kata Taufiq. Caretaker ini yang memperoleh mandat untuk melaksanakan konferensi cabang lanjutan.
Taufiq tidak tahu apa yang terjadi di tubuh Pagar Nusa. “Kami di PCNU menghargai (organisasi) itu otonom. Cuma ada hal-hal yang secara administratif legal formal beluk terpenuhi, Semestinya itu dituntaskan lebih dulu,” katanya.
“Kami dari PCNU mengharapkan Pagar Nusa solid dan utuh untuk pengembangan kaderisasi dan kelembagaan. Semestinya terjadinya deadlock itu memperingatkan kita semua, termasuk Pengurus Pusat, untuk mendalami apa yang sebenarnya terjadi,” kata Taufiq. [wir/but]






