Gresik (beritajatim.com)- Komunitas Kotaseger Indonesia yang ditunjuk sebagai penyaji hasil kurasi Bidang Teater Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur (DKJT), berhasil memukau penonton dengan pertunjukannya berjudul ‘Kinthir Perapian Gerwarasi dan Lautan Asap’ di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik.
Pertunjukan Kinthir yang diawali dengan munculnya seorang pemain bersorjan dan berkalung terbang. Membuat penonton yang hadir semakin penasaran.
Dalam ceritanya, Ki Afif Kalimasada menembangkan pangkur. Kemudian disusul tembang-tembang lain, diiringi tabuhan terbang ala seni kentrung berterusan terdengar hingga ke sudut ruang GNI.
Tubuhnya yang ringkih mungil itu tampak kecil ketika layar videotron di belakangnya menyala, menghadirkan visual bertuliskan special aesthetik zone dengan menghapus kata ‘economic’ sebagaimana pada tulisan Special Economic Zone di pintu gerbang JIIPE.
Di sela Ki Afif berterusan menembang, ketika itu pula berlintasan lampion Damar Kurung di belakangnya. Satu demi satu melintasi panggung, begitu berterusan.
Pertunjukan menjadi hangat ketika muncul sebuah roda kendaraan truk menggelinding di panggung. Kedatangannya yang berterusan itu mengusir keindahan lampion-lampion dan suara tembang. Setelah roda ban itu berhenti dan terjatuh, keluar lah sesosok makhluk dari dalam ban tersebut.
Adegan demi adegan terus berlanjut dan semakin memanas. Suara-suara gemuruh, hantaman cerobong seng, dan sesekali bergantian mesin-mesin pabrik atau suara excavator melintas di telinga.
Pertunjukan Kinthir berjalan selama hampir satu jam. Meski berdesakan di dalam gedung pertunjukan dan harus rela menonton dalam kedinginan, para penonton tetap betah di tempat, menyaksikan pertunjukan.
Sutradara pertunjukan Kinthir Ali K.H mengungkapkan ide pertunjukan ini bermula dari spirit Damar Kurung dan keresahan-keresahan kolaborator tentang realita kehidupan masyarakat di Kabupaten Gresik.
“Cerita pertunjukkan ini diangkat adanya keresahan teman-teman aktor yang memiliki kecemasan ketika melihat realita kehidupan di masyarakat,” ujarnya, Senin (9/12/2024).
Lelaki yang didapuk sebagai sutradara pertunjukan Kinthir itu juga mengatakan, ada banyak peristiwa atau fenomena yang dijadikan bahan dalam penggarapan pertunjukan ini.
Salah satunya perilaku kehidupan masyarakat urban, ketimpangan sosial dan keluarga, persoalan agraria, industrialisasi yang justru mencederai, hingga perihal ekologi.
“Kami mengangkat persoalan-persoalan, fenomena, peristiwa budaya, hingga persoalan sosial di Kabupaten Gresik,” ungkapnya.
Dalam penggarapannya, Ali juga mengaku berdasar pada riset dan arahan para pendamping.
“Semua kita riset dulu, utamanya keterkaitan dengan tema besar yaitu Damar Kurung Explore. Kami juga berpatokan pada kata kunci kurator sebagai landasan mengerjakan ini, yaitu spiritualisme, kolaborasi, ekologi, dan multikuktural,” paparnya
Sementara itu, Mahendra Cipta selaku kurator pertunjukan teater JAF 2024 menyatakan pada dasarnya, pertunjukan Kinthir ini diproduksi untuk merespon berbagai aspek persoalan dan fenomena, yang dimana sesungguhnya Gresik sudah memiliki tanda terang untuk menjalani hidup.
“Kami menyampaikan pentingnya kesadaran masyarakat dalam merawat kekayaan budaya asal daerah ini. Seperti Damar Kurung yang ternyata menyimpan banyak pengetahuan,” pungkasnya. [dny/but]






