Surabaya (beritajatim.com) – Masih tingginya angka stunting di Jawa Timur, khususnya Surabaya membuat Komunitas Jemput Mimpi Surabaya tergerak untuk menggelar aksi sosial. Mereka membagikan sejumlah paket makanan bergizi bagi warga kurang mampu di Surabaya.
Seperti diketahui, Pemkot Surabaya telah mencanangkan program zero stunting. Terhitung per Oktober 2022, kasus stunting di Surabaya masih mencapai angka 1.055 balita.
Koordinator Pegiat Nasi Bungkus Surabaya, Ajis Muhammad menjelaskan, aksi ini merupakan kolaborasi antara Pegiat Nasi Bungkus Surabaya dan Komunitas Jemput Mimpi. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap Kamis malam.
Ajis menyebut, dirinya sengaja memilih hari Kamis malam sebab di waktu ini posisi matahari sedang tenggelam, dan bulan mulai muncul. “Sehingga, Kamis sudah menjadi bagian dari Jumat dan ini menjadi bagian dari Jumat Berkah,” jelas Ajis ditulis Sabtu (21/1/2023).

Ajis mengatakan, aksi sosial yang dilakukan oleh anak-anak muda ini biasanya menyasar tempat-tempat keramaian seperti jalan protokol dan kawasan-kawasan ramai lainnya. Namun, sebagian juga ada yang disalurkan lewat panti asuhan.
Ia menambahkan, selain menumbuhkan jiwa empati lewat kegiatan bagi-bagi nasi bungkus, komunitas ini juga fokus membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting.
Sementara itu, Founder Jemput Mimpi, Jennifer Calista menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari sosialisasi pentingnya gizi. Ia menyebutkan, selain pembagian nasi bungkus, dibagikan juga air mineral, susu, dan multivitamin.
“Susunya mengandung kalium, natrium, hingga protein yang cukup untuk kebutuhan dalam satu hari,” sebutnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pernikahan-dini”]
Pemenuhan gizi, kata dia, menjadi hal penting apalagi untuk menurunkan angka stunting. Hal itu juga sudah sejalan dengan program Pemkot Surabaya. Jennifer menyampaikan bahwa pemenuhan gizi harus dilakukan oleh ibu hamil. “Pemenuhan gizi juga harus dilakukan oleh ibu hamil. Ini yang terus kami lakukan,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Anna Fajriatin mengungkapkan bahwa program permakanan tahun ini tidak lagi memakai dana kelurahan. Namun, memanfaatkan anggaran di Dinas Sosial sebagai bantuan sosial.
Ia menyebut, pemenuhan gizi dilakukan dengan menyalurkan makanan. Di Surabaya sendiri, kata dia, ada sebanyak 18.818 jiwa yang ditetapkan sebagai penerima program permakanan.
“Karena ini merupakan bantuan sosial, maka peraturan dan perwalinya juga berbeda. Penerimanya juga harus masuk ke dalam warga miskin, baik yang lanjut usia, disabilitas, anak yatim dan yatim piatu,” tandas Anna. [ipl/but]






