Surabaya (beritajatim.com) – Luapan amarah dan kekecewaan tidak bisa ditahan oleh komika Musdalifah Basri saat mengetahui kabar mengejutkan: rumah orang tuanya di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, akan dilelang bank.
Tinggal menetap di Jakarta bersama keluarga kecilnya, Musdalifah langsung terbang pulang ke kampung halaman, berharap masih bisa menyelamatkan rumah masa kecil yang penuh kenangan itu.
Kabar ini ia sampaikan lewat unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis (5/11/2025).
Dalam postingan tersebut, Musdalifah menulis dengan nada getir tentang perjuangannya menebus rumah orangtua yang terancam lelang. Ia mengaku syok dan kecewa setelah mengetahui bahwa rumah tersebut dijadikan jaminan utang oleh sang paman — tanpa sepengetahuan keluarganya.
Musdalifah menjelaskan, masalah ini berawal 17 tahun lalu, ketika sang ayah meminjamkan sertifikat rumah kepada kerabat yang hendak mengajukan pinjaman. Kala itu, keluarga percaya hubungan darah akan menjadi jaminan moral. Namun waktu membuktikan sebaliknya.
“17 tahun yg lalu om pinjam sertifikat Bapak/mama. Dan dia selalu bilang, hutangnya dibayar-dibayar, tapi ternyata sampai orang tuaku meninggal. Hutang itu tidak berkurang sama sekali huhu. Mama Bapak sudah capek bangun rumah, malah terancam hilang begitu saja,” tulis Musdalifah dengan nada getir.
Kini, rumah peninggalan orangtua dengan luas 173 meter persegi tersebut masuk dalam daftar lelang dengan nilai limit mencapai lebih dari Rp900 juta.
Begitu tiba di Pinrang, Musdalifah pun segera mengurus surat ahli waris dan berusaha menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Namun upaya mediasi berjalan buntu. Amarah Musdalifah tak tertahankan ketika mengetahui pihak keluarga yang seharusnya bisa dipercaya justru membuat orangtuanya kehilangan tempat bernaung.
“Sebenarnya aku dan saudara udah gak punya kesabaran lagi, tapi saat ini penyelesaian masalahnya diselesaikan dengan cara kekeluargaan dulu. Kasihan juga sebenarnya karena om sudah tidak punya apa2 lagi, tapi gimanaaa yahhhhhhhhhh ampun ahhhh,” ujarnya. Meski kelelahan, ia terus mencari jalan keluar. Total uang tebusan yang harus disetorkan untuk menyelamatkan rumah itu mencapai Rp500 juta. Sayangnya, di hari terakhir setoran, Rp200 juta yang dijanjikan sang paman tidak juga terkumpul.
“Rencana mau penebusan sertifikat 500juta, Pakai uang pribadiku 300, Tapi pihak dari sana ada aja dramanya. Jadi panjang lagi prosesnya,” ujarnya.
Rumah itu bukan sekadar bangunan bagi Musdalifah. Di sanalah ia tumbuh, mengenal tawa dan kasih sayang orangtua. Kini, setiap dinding dan halaman seolah menjadi saksi getirnya perjalanan hidup dan kepercayaan yang dikhianati. [fyi/beq]






