Surabaya (beritajatim.com) – Pelaku usaha mikro dihadapkan pada tantangan besar dalam menghadapi persaingan global, terutama karena rendahnya tingkat adopsi teknologi.
Dalam kegiatan ‘Sarasehan Bareng Mas Fuad’ bertajuk Penguatan ‘Ekonomi Mikro dalam Persaingan Global’ yang digelar di Hotel Gold Vitel Surabaya, para pemangku kepentingan menekankan pentingnya digitalisasi sebagai kunci pertumbuhan dan daya saing UMKM.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Fuad Benardi menyampaikan bahwa UMKM harus meninggalkan pola usaha konvensional dan mulai memanfaatkan teknologi digital.
“Sudah saatnya UMKM kita tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga menguasai pemasaran digital agar mampu bersaing secara global. Kita harus dorong pelaku usaha memanfaatkan teknologi agar pemasaran produk menjadi lebih luas dan efisien,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dr. Soetomo, Dr. Meithiana Indrasari, menggarisbawahi bahwa kontribusi besar sektor mikro terhadap PDB nasional dan tenaga kerja belum sebanding dengan tingkat literasi digital pelaku usahanya.
“Transformasi digital adalah prasyarat keberlanjutan usaha mikro di era global. Digital onboarding melalui pengenalan e-commerce, e-wallet, dan sistem CRM menjadi langkah awal,” kata perempuan yang juga menjadi Tim One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur itu.
Menurutnya, pelaku UMKM juga perlu mendapatkan pelatihan konten digital seperti fotografi produk dan strategi branding, serta menjalin kemitraan dengan marketplace dan sistem pembayaran digital.
“Model pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, dan media sangat relevan untuk mendorong kolaborasi nyata demi mempercepat digitalisasi UMKM,” paparnya.
Dukungan dari pemerintah dan komunitas menjadi penting untuk mendorong adaptasi teknologi, sebagaimana diungkapkan oleh pelaku UMKM Pahlawan Ekonomi Surabaya, Siti Aminah.
“Dulu saya hanya jualan dari rumah ke rumah. Tapi setelah ikut pelatihan di program Pahlawan Ekonomi, saya bisa menjangkau pelanggan dari luar kota bahkan luar pulau. Sekarang omzet saya meningkat dan saya juga lebih percaya diri memasarkan produk lewat media sosial dan marketplace,” kata Siti.
Siti menyampaikan harapannya agar program Pahlawan Ekonomi kembali digaungkan dan dijalankan secara konsisten.
Menurutnya, program tersebut terbukti mampu memberikan manfaat nyata, khususnya dalam membantu pelaku UMKM untuk meningkatkan pendapatan serta memperluas peluang usaha mereka di tengah tantangan ekonomi saat ini.
Forum ini juga menyimpulkan bahwa selain pelatihan dan infrastruktur, diperlukan keberanian dari pelaku UMKM sendiri untuk keluar dari zona nyaman.
Kolaborasi antara lembaga pendidikan, swasta, pemerintah daerah, dan media lokal dinilai strategis dalam menciptakan ekosistem UMKM berbasis digital. (tok/ian)






