Surabaya (beritajatim.com) – Ipswich, sebuah kota di Inggris Raya, menjadi saksi bagaimana kehangatan dan solidaritas memenuhi suasana saat umat Muslim membuka pintu masjid mereka untuk berbuka puasa bersama pada bulan Ramadan.
Pada malam Minggu, 17 Maret 2024, sekitar 600 orang memadati Masjid Ipswich, termasuk 50 tamu dari berbagai latar belakang. Saat matahari terbenam pukul 18:06 GMT, kurma manis dan air putih disajikan sebagai pembuka, diikuti dengan hidangan kari yang lezat.
Nurul Chowdhury, ketua masjid, mengungkapkan kegembiraannya, “Melihat orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul di sini sungguh luar biasa. Masjid ini bukan hanya milik umat Islam, tapi milik seluruh komunitas.”
Kehangatan acara ini juga dirasakan oleh Kate Hodgetts, kepala Sekolah Dasar St Helens, yang mengajak dua anak laki-lakinya. Ia menekankan pentingnya memahami keberagaman untuk menghilangkan ketidaktahuan.
Solidaritas ini juga dirasakan oleh warga dari berbagai agama dan latar belakang. Sue Raychaudhuri, seorang Hindu yang hadir bersama suaminya yang Kristen, merasa berbuka puasa bersama adalah cara luar biasa untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan.
Sebelum makan Iftar, semua diundang untuk melakukan “satu hal baik dalam sehari”, mencerminkan nilai-nilai kebaikan yang dianut bersama dalam Ramadan.
Puasa Ramadan, salah satu dari Lima Rukun Islam, menjadi pondasi bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan mereka. Tradisi berbuka puasa seperti ini tidak hanya menyatukan komunitas, tetapi juga menunjukkan pentingnya saling mendukung dan menghargai dalam perbedaan.
Di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks, momen seperti ini mengingatkan kita semua akan kekuatan persatuan yang dapat diciptakan melalui penghargaan terhadap keberagaman. Semoga semangat kebaikan dan solidaritas ini terus berkembang, tidak hanya di Ipswich, tetapi di seluruh dunia. [ian]






