Bondowoso (beritajatim.com) – Di tengah maraknya penggunaan wadah berbahan plastik dan perubahan pola perdagangan modern, para perajin anyaman bambu di Kabupaten Bondowoso masih bertahan menjaga warisan keterampilan yang telah diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah Enis, perajin birnyit atau wadah ikan asal Desa Pakem, Kecamatan Pakem.
Bersama anggota keluarganya, Enis setiap hari menekuni pekerjaan menganyam bambu menjadi berbagai kebutuhan masyarakat. Produk yang dibuat meliputi birnyit untuk wadah ikan serta wadah bibit tembakau yang banyak digunakan pedagang dan petani di Bondowoso maupun daerah sekitarnya.
“Kami sekeluarga merajin dua jenis yaitu birnyit atau wadah ikan, kemudian wadah bibit tembakau. Semuanya dari bambu,” kata Enis, Minggu (7/6/2026).
Bahan baku utama diperoleh dari sejumlah desa di sekitar lereng Pegunungan Argopuro. Menurut Enis, ketersediaan bambu di kawasan tersebut masih cukup melimpah sehingga memudahkan para perajin memenuhi kebutuhan produksi.
“Untuk bahan baku bambu kami beli di desa-desa sekitaran kami karena kami tinggal di lereng Pegunungan Argopuro. Bahan bakunya melimpah,” ujarnya.
Seluruh proses produksi masih dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan keterampilan tangan. Dalam sehari, keluarga Enis mampu menghasilkan sekitar 100 buah birnyit dan 50 wadah bibit tembakau.
Meski terlihat sederhana, usaha kerajinan bambu ini memiliki dinamika tersendiri. Harga jual produk sangat dipengaruhi oleh musim dan tingkat permintaan pasar.
Saat ini, birnyit dijual dengan harga sekitar Rp20 ribu hingga Rp23 ribu per 100 buah. Sementara wadah bibit tembakau dipasarkan dengan harga berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.
“Kenaikan harga mulai terasa untuk wadah bibit sepekan terakhir menjadi Rp40 ribu karena mulai masuk musim tanam tembakau,” tutur Enis.
Berbeda dengan wadah bibit tembakau, harga birnyit masih relatif stabil karena musim tangkapan ikan belum dimulai. Saat permintaan sedang rendah atau memasuki masa paceklik, harga birnyit bahkan dapat turun hingga Rp12 ribu per 100 buah. Sedangkan wadah bibit tembakau bisa merosot hingga sekitar Rp17 ribu.
Namun ketika permintaan meningkat, harga produk anyaman bambu tersebut dapat melonjak tajam. Enis mengaku birnyit pernah terjual hingga Rp50 ribu per 100 buah, sementara wadah bibit tembakau mampu mencapai harga Rp100 ribu per 50 buah.
Fluktuasi harga yang mengikuti musim tidak membuat Enis meninggalkan profesi yang telah digelutinya selama bertahun-tahun. Baginya, usaha anyaman bambu tetap menjadi sumber penghidupan utama keluarga.
Selain memberikan penghasilan, produk berbahan bambu masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Banyak pengguna yang tetap memilih wadah tradisional karena dianggap lebih ramah lingkungan dan telah menjadi bagian dari budaya pedesaan sejak lama.
Keberadaan para perajin seperti Enis juga menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional masih mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Dengan ketekunan dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi, bambu tidak hanya menjadi komoditas alam dari lereng gunung, tetapi juga sumber ekonomi bagi banyak keluarga.
Di tangan para perajin, bambu menjelma menjadi produk yang bernilai guna sekaligus menjaga denyut tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat Bondowoso. [awi/but]






