Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai kota yang menyandang julukan “Metropolitan” dengan populasi mencapai 3 juta lebih penduduk, Surabaya punya banyak kisah. Baik itu soal kesuksesan di perantauan, hingga pinggiran yang kerap diidentikkan dengan dunia merah.
Di antara sekian banyak kisah itu, terselip cerita tentang manusia yang hidup dengan syukur yang tak terputus meski dalam kondisi yang sangat seadanya. Cerita itu datang dari seorang lansia bernama Kartini.
Usianya tak lagi muda, apalagi paruh baya. Terlihat dari keriput yang tampak begitu jelas di wajahnya. Sebagian giginya juga sudah tanggal, membuat suaranya terdengar sengau saat bicara.
Di Kota Pahlawan ini, tepatnya di Pacarkeling, wanita yang lahir di Lamongan dan mengaku sudah berumur kepala 9 itu sudah lama hidup sebatang kara. Tempat tinggalnya bukanlah bangunan permanen, melainkan bilik kecil yang dibuat di atas gerobak berukuran 1×2 meter, yang sudah dia anggap sebagai rumah.
Kondisi bilik gerobaknya teramat seadanya. Rangkanya menggunakan balok kayu dengan dinding memakai kayu triplek. Tak ada jendela dan lampu. Hanya ada pintu di satu sisi, untuk akses Kartini keluar masuk gerobak. Soal bagaimana kondisi di dalam, tentu sangat pengap.
Apalagi, Kartini memfungsikan gerobak itu tidak hanya sebagai tempat tinggal namun juga sarana mengais rezeki. Di gerobak itu pula, Kartini berdagang barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sebut saja seperti sabun cuci, shampoo, obat nyamuk oles, air mineral, maupun minuman sachet.
Lansia itu selalu duduk bersimpuh di antara jarak dua celah pintu kayu. Luasnya gerobak tentu tak bisa menampung keseluruhan tubuhnya. Jika memaksa berdiri, maka kepala akan membentur atap.
Saban siang, Kartini melewatkan waktu dengan duduk termangu menunggu kucing liar kelaparan yang datang meminta makan. Apabila beruntung, akan ada orang mampir untuk melarisi dagangannya yang hanya segelintir, bisa dihitung jari.
Meski hidup seadanya, Kartini tak kehilangan jiwa besarnya. Hal itu tampak ketika ia bercerita betapa seringnya menangisi kucing yang mati, apalagi korban hardikan orang yang tak bertanggung jawab. Meski itu membuatnya panen makian.
“Kula sampek dipisuh-pisuhi. Enjing-enjing kucing disemproti kaleh minyak gas nopo mboten pejah (saya sampai diumpati. Pagi-pagi kucing disemproti dengan minyak tanah apa tidak mati?),” cerita Kartini lirih dengan bahasa Jawa halus.
Kisah hidup Kartini tinggal di gerobak sebatang kara dimulai 30 tahun lalu. Saat itu, dia putuskan merantau dari Lamongan untuk bekerja di Surabaya. Dia tak mengaku pernah menikah, hanya bercerita pengalamannya yang sempat bekerja pada seorang majikan.
Dari pekerjaan itu, Kartini punya pendapatan. Dia pun mengumpulkan sebagian uang itu dengan harapan bisa jadi modal usaha. Setelah dirasa cukup, dia pakai uang simpanan itu untuk membeli gerobak kios milik bibinya yang tinggal di Karanggayam, Surabaya.
Dengan gerobak itu, Kartini memulai usaha dengan berjualan kebutuhan sehari-hari. Bisa dibilang, ia punya warung kelontong berjalan. Karena dilengkapi roda, Kartini bisa berpindah tempat jualan kapanpun. Termasuk pula menghindari razia Satpol PP.
Soal mengapa hidup sebatang kara, Kartini mengaku sebagian besar keluarganya sudah tiada. Dia sebenarnya masih punya beberapa keponakan. Sayangnya, Kartini menyebut perilaku para keponakannya dengan istilah “ndak njawani”. Sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menyebut perilaku tidak patut menurut adat Jawa. Sehingga ia putuskan hidup sendiri.
Meminta dipanggil “simbah”, Kartini mengaku sangat menyayangi kucing laiknya ia menyayangi anak-anak. Sejak 4 tahun lalu, kucing menjadi teman yang menemaninya hidup dalam gerobak.
Hewan mungil berkaki empat itu baginya adalah teman pelipur lara. Teman di waktu malam yang kadang-kadang datang menemaninya tidur lelap, setelah alas tidur kecil dibagi dua; dengan posisi tidur meringkuk.
“Kucing lewat niku loh kula timbali ken nedo. Dalu kula pukpuk ten mriki nggeh mendel mawon (kucing lewat itu lho saya panggil biar berteduh, Malam saya tepoki badannya di sini ya diam saja),” ujar dia.
Kalau malam tiba, penerangan rumah kecil gerobak itu hanya bergantung pada cahaya dari lampu minyak. Sorot mata tua itu berkaca-kaca, dengan suara berat ia memamerkan lampu minyak dan satu unit lampu LED, pemberian dari seseorang.
“Lampune nggih ngangge niki, ublik. Nggih kados niku, nopo namine senter ngangge batu (baterai). Mboten lampune listrik nak bayare mboten saget, repot (Lampunya ya pakai ini, lampu minyak. Ya seperti itu, senter yang pakai baterai. Lampunya bukan lampu listrik, karenya tidak bisa bayar),” papar Kartini tersenyum kagum, seolah led satu-satunya teknologi berharga canggih yang dia miliki.
Menjalani pahitnya hidup yang serba kekurangan, Kartini mengaku sedih saat ada orang-orang yang tetiba datang memberi uang. Ia turut menyatakan bahwa, bergantung pada pendapatan hasil jualan sangat kerepotan. Oleh sebab itu dia tidak pernah putus mendoakan kebaikan orang tersebut dalam salat.
“Kula mboten ngatung (saya tidak menjulurkan tangan untuk meminta-minta). Mboten, Nak. Tiyange mriki matur ‘damel dahar mbah, damel tumbasne kopi mbah’. Nggeh kula terimo nak, kula dongak-dongakaken (saya doakan) mugo rejekine kathah, sehat (Tidak, nak, orangnya ke sini, bilangnya ‘buat makan, Mbah’, buat beli kopi, Mbah. Ya saya terima, Nak, saya doakan mereka semoga rezekinya banyak, sehat),” jelas dia.
“Kula diwelasi, Nak, kalih tiyang-tiyang sing nyambut damel niku, kula asline nggeh abot (Saya dikasihani, Nak, sama orang-orang yang bekerja itu, saya aslinya juga berat menerima),” imbuhnya.
Celah ruang kecil di kediaman Kartini itu tampak seadanya. Gelap, pengap, tertata rapi ublik, serta lampu led. Terlihat dagangan sabun cuci, sampo segelintir.
Ruang kecil itu menjadi tempat berlindung Kartini, untuk istiqomah Sembah Yang memanjatkan doa-doa dalam salat. Memanjakan kucing-kucing liar kelaparan, di tengah iringan hidup yang serba riskan.
“Nek salat kula nggih mboten saget ngadek, kalih lungguh nak ten mriki. Kadang-kadang nek waktu jawah-jawah niki ketampes. Badan nggeh linu (Kalau salat, saya tidak bisa dengan berdiri, dengan duduk di sini. Kadang-kadang kalau hujan yang tampias. Badan juga linu),” tandas Kartini di gerobaknya. [rma/beq]








