Blitar (beritajatim.com) – Dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Blitar, yakni BPR Artha Praja dan PDAM, harus gigit jari. Hal ini terjadi setelah DPRD Kota Blitar memutuskan untuk mencekik atau menghentikan suntikan tambahan modal tahun ini.
Penghentian penambahan suntikan modal ini dilakukan karena kinerja kedua BUMD tersebut dinilai belum maksimal dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga DPRD Kota Blitar mengambil langkah tegas tersebut.
Ketua DPRD Kota Blitar, Syahrul Alim, mengungkapkan penghentian modal ini adalah langkah tegas. Ia menyoroti kinerja BPR Artha Praja yang selama ini dianggap tidak memberikan dampak signifikan. Menurutnya, alokasi anggaran yang besar untuk BPR tersebut hanya berakhir sebagai deposito, bukan untuk kegiatan usaha produktif yang bisa menguntungkan daerah.
“Sementara belum ditambah penyertaan modalnya,” tegas Syahrul, Kamis (25/9/2025).
Tak hanya BPR Artha Praja, Syahrul juga meminta Pemkot Blitar untuk mengevaluasi kinerja PDAM yang dinilai serupa, belum optimal berkontribusi ke kas daerah, terutama sejak pandemi Covid-19.
DPRD berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar segera mengambil langkah konkret. Evaluasi menyeluruh, transparansi anggaran, dan strategi bisnis yang lebih produktif dianggap penting agar BUMD bisa kembali menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
“Iya karena belum memberikan sumbangsih ke PAD,” tegasnya.
Kejengkelan DPRD tersebut memang cukup wajar. Pasalnya hingga bulan September 2025 ini, realisasi PAD Kota Blitar baru mencapai Rp130 miliar atau sekitar 58,8 persen dari target. Diketahui target PAD Kota Blitar adalah sebesar Rp221 miliar.
Menanggapi sorotan tersebut, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menegaskan setiap pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) harus berlandaskan pada kinerja yang keras dan terukur. Ia mengingatkan bahwa tanpa tolok ukur yang jelas, pengelolaan akan kembali seperti pola lama yang dinilainya tidak efektif.
“Setiap pengelolaan BLUD maupun BUMD senantiasa berdasarkan kinerja yang keras dan terukur. Kalau tidak terukur maka nanti akan seperti model-model lama yang terdahulu,” katanya. [owi/beq]






