Surabaya (beritajatim.com) – Kembalinya Persebaya ke level teratas kompetisi sepak bola Indonesia (kali ini Liga Super) pada 2009 disambut gembira oleh stasiun televisi dan sponsor. Kendati berstatus tim debutan, Persebaya mendapatkan jatah siaran langsung televisi terbanyak dibandingkan klub-klub lainnya. AIM Biscuits juga memperpanjang kontrak kerja sama sebagai sponsor.
Namun semua tak seindah yang dibayangkan.
Musim 2009-2010: Awal Perlawanan Terhadap PSSI
Bonek dan manajemen Persebaya mengawali musim ini dengan optimisme. Namun musim ini menjadi awal mimpi buruk Persebaya. Diikuti 18 klub, Persebaya kembali terdegradasi ke Divisi Utama bersama Persik Kediri dan Persitara Jakarta Utara, setelah menempati posisi ke-17 dengan mengantongi 36 angka, dari 10 kemenangan, 6 hasil seri, dan 18 kekalahan, serta agregat gol 42-58.
Proses degradasi Persebaya memantik kontroversi yang akhirnya mengawali perlawanan terhadap PSSI secara nasional. Sebenarnya Persebaya masih berpeluang lolos dari degradasi jika menduduki tempat ke-15 yang merupakan zona play-off. Kuncinya adalah pertandingan terakhir melawan Persik di Kediri. Selain Persik, pesaing Persebaya di zona play-off adalah Pelita Jaya.
Dan inilah liga sepak bola teraneh di dunia. Kompetisi sudah berakhir, Arema Indonesia sudah merayakan gelar juaranya. Namun ada satu pertandingan zona degradasi yang belum juga diketahui hasilnya.
Persik Kediri gagal menggelar pertandingan melawan Persebaya di Kediri pada 29 April 2010 dengan alasan keamanan, menyusul kedatangan ribuan Bonek dalam pertandingan yang direncanakan tanpa penonton itu. Mengacu pada manual liga dan pertandingan-pertandingan terdahulu, Persik seharusnya dinyatakan kalah 0-3 dan Persebaya mendapatkan kemenangan.
Namun PSSI dan operator kompetisi PT Liga Indonesia tidak memutuskan demikian. Pertandingan itu diputuskan untuk ditunda dan diulang di Jogjakarta pada awal Mei. Namun lagi-lagi gagal karena tak ada izin dari polisi.
PSSI tak segera memutuskan kemenangan WO untuk Persebaya. Mereka memutuskan pertandingan digelar lagi di Kediri pada 5 Agustus 2010. Namun seperti dejavu, pertandingan itu kembali gagal dilangsungkan karena tak ada izin dari polisi.
PSSI kemudian memutuskan pertandingan digelar di Palembang pada 8 Agustus 2010 atau empat bulan setelah kompetisi musim 2009-2010 berakhir. Kali ini Persebaya memutuskan tidak datang, dan akhirnya dinyatakan kalah 0-3. Persebaya resmi terdegradasi untuk ketiga kalinya sepanjang ikut serta dalam Liga Indonesia sejak 1994.
Musim 2010-2011: Dualisme Persebaya
Persebaya mengalami krisis internal terburuk sejak berdiri pada 18 Juni 1927. PT Persebaya Indonesia yang didukung 20 klub anggota menolak ikut serta dalam kompetisi Divisi Utama 2010-2011 dan lebih memilih bersiap mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia yang digagas pengusaha Arifin Panigoro.
Atas restu PSSI, akhirnya dibentuklah klub tandingan yang juga bernama Persebaya atas dukungan 10 klub internal. Dibentuk dadakan, pemain-pemain klub Persikubar Kutai Barat diambil alih untuk dimainkan atas nama Persebaya Surabaya. Namun klub tandingan ini gagal berprestasi dan hanya menduduki peringkat kelima Grup 3 Divisi Utama.
Sementara itu Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia kesulitan melangsungkan pertandingan, karena kepolisian tidak mengizinkan ada dua klub dengan nama yang sama bermain di Surabaya. Sebagai penyiasatan, PT Persebaya Indonesia menggunakan nama Surabaya FC dalam pertandingan uji coba melawan Indo Holland di Stadion Gelora 10 Nopember, Rabu, 10 November 2010.
Persebaya kalah 1-2. Namun itu tidak penting, karena pertandingan itu cukup untuk membuktikan keberpihakan publik Surabaya dengan kehadiran belasan ribu penonton. Selain itu, pertandingan tersebut memang bagian dari persiapan menyongsong Liga Primer Indonesia.
Musim 2011-2012: Persebaya 1927 (Separuh) Juara Liga Primer Indonesia
Persebaya menjadi peserta Liga Primer Indonesia dengan nama Persebaya 1927. Kompetisi tandingan ini digelar oleh Konsorsium PT. Liga Primer Indonesia Sportindo pada 8 Januari 2011 dan diikuti 19 klub. Selain Persebaya, ada Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar yang menyeberang dari kompetisi resmi PSSI.
Persebaya terlalu kuat dalam sebuah kompetisi yang diikuti klub-klub franchise baru bernama kebarat-baratan, seperti Aceh United, Tangerang Wolves, Medan Chiefs, atau Semarang United.
Persebaya boleh disebut sebagai juara liga edisi perdana. Namun keberhasilan mereka tidak sempurna, karena Liga Primer tidak menyelesaikan paruh kedua musim kompetisi setelah terhenti pada Mei 2011 menyusul peningkatan tensi konflik di tubuh PSSI.
Bajul Ijo menjadi jawara putaran pertama dengan mengemas 40 angka, dari 12 kemenangan, 4 hasil seri, dan 2 kekalahan, serta agregat gol 42-13. Posisi kedua dan ketiga diduduki Persema Malang (40 angka) dan PSM Makassar (34 angka).
Musim 2011-2012: Juara Unity Cup, Runner-Up Liga Prima Indonesia, dan QPR
Kongres resmi memilih Djohar Arifin menjadi Ketua Umum PSSI, dan Liga Primer Indonesia resmi menjadi menggeser Liga Super Indonesia sebagai kompetisi sepak bola level tertinggi dengan nama Liga Prima Indonesia.
Persebaya menjadi satu dari 12 klub yang berkompetisi pada 26 November 2011 – 17 Juli 2012. Sementara itu pada saat bersamaan Liga Super Indonesia berubah status menjadi kompetisi tandingan.
Persebaya menduduki posisi runner-up di bawah Semen Padang, dengan mengantongi 38 angka dari 12 kemenangan, 2 hasil seri, 8 kekalahan, dan agregat gol 31-23. Namun kendati gagal meraih trofi juara liga, Persebaya menutup tahun 2011 dengan indah.
Anak-anak asuhan Divaldo Alves, pelatih asal Portugal, ini berhasil merebut trofi Unity Cup dengan mengalahkan juara Liga Malaysia Kelantan FA. Setelah bermain imbang 1-1 di Kelantan pada 23 Desember 2011, Persebaya berhasil mengalahkan Kelantan 3-2 di Stadion Gelora 10 Nopember, 29 Desember 2011.
Sepekan setelah berakhirnya Liga Prima Indonesia 2011-2012, Persebaya melakoni uji coba internasional melawan klub Liga Primer Inggris Queens Park Ranger, di Stadion Gelora Bung Tomo, 23 Juli 2012.
Puluhan ribu Bonek menjadi saksi keberhasilan Fernando Soler menjebol gawang QPR lebih dulu pada menit 17. Dua gol balasan Adel Taarabt pada menit ke-26 melalui titik putih penalti dan Bobby Zamora pada menit 67 mengakhiri perlawanan Persebaya.
Bukan skor akhir yang akan membuat pertandingan itu dikenang, melainkan dua kali padamnya lampu di tengah pertandingan yang membuat puluhan ribu penonton menyalakan cerawat, petasan, dan cahaya ponsel. [wir]






