Jombang (beritajatim.com) – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengusulkan Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Jombang, mejadi desa devisa. Usulan tersebut akan disodorkan ke LPEI (Lembaga pembiayaan Ekspor Indonesia).
Pernyataan itu disampaikan Khofifah usai meninjau kerjainan manik-manik kaca yang ada di sesa tersebut.
Plumbongambang merupakan sentra kerajinan manik-manik sejak tahun 1970-an. Sebagian besar warga Desa Plumbongambang menggantungkan hidup dari pembuatan kerajinan tersebut.
[berita-terkait number=”5″ tag=”desa”]
Kedatangan Khofifah bersama rombongan ke Plumbongambang didampingi oleh Bupati Jombang Mundjidah Wahab . Sedangkan lokasi yang dituju adalah Griya Manik yang ada di Jl Raya Pojok, Desa Plumbongambang. Usaha ini milik Suloso.
Begitu tiba di lokasi, gubernur langsung meninjau proses pembuatan manik-manik. Khofifah takjub dengan pembuatan manik dengan cara tradisional itu. Yakni, kaca yang sudah dilebur itu dipanasi menggunakan semburan api hingga berwarna merah.
Perajin kemudian membentuk manik-manik sesuai dengan pola yang diinginkan. Kepala Desa Plumbongambang Nur Wakid yang berdiri di samping Khofifah menerangkan proses pembuatan manik secara panjang lebar. Mulai jenis, bahan baku, hingga motif manik-manik tersebut. Sembari melihat proses pembuatan, Khofifah mendengarkan penjelaskan dari Nur Wakid dengan seksama.
Selanjutnya, gubernur meninjau hasil kerajinan di toko milik Suloso. Berbagai jenis manik-manik yang sudah dirangkai terpajang di toko tersebut. Ada yang dirangkai menjadi gelang, kalung, gantungan kunci, tasbih, serta model lainnya. Motifnya juga bermacam-macam. Mulai motif Kalimantan, Nusa Tenggara, Africa, hingga Majapahitan. Khofifah melihat manik-manik itu penuh decak kagum.

Akhirnya, Khofifah memborong puluhan manik jenis afrika dan majapahitan. Baik manik yang sudah dirangkai menjadi gelang, kalung, maupun tasbih. Total harganya Rp 10,9 juta. Di tempat tersebut Khofifah juga beberapa kali mencoba kalung dan gelang.
“Manik-manik produksi warga Desa Plumbongambang ini sangat menarik. Punya keunikan. Dikerjakan secara tradisional. Oleh sebab itu, Plumbongambang kami usulkan ke LPEI menjadi desa devisa. Di Jawa Timur yang kita usulkan 15 desa, temasuk Plumbongambang ini,” ujar Khofifah.
Khofifah mengatakan, ada beberapa syarat agar bisa jadi desa devisa. Pertama, produk yang dihasilkan desa tersebut adalah produk sendiri, kedua, punya keunikan, ketiga terdapat usaha yang sama di desa dan terakhir punya asosiasi atau kelompok usaha.
Nah, dari empat syarat tersebut, menurut Khofifah, Desa Plumbongambang sudah memenuhi. Desa Devisa berbeda dengan desa pada umumnya. Karena desa devisa akan mendapat pendampingan dari LPEI yang meliputi bantuan pembiayaan, desain, serta akses pasar (luar negeri).
“Menurut saya Plumbongambang sangat layak diajukan menjadi desa devisa. Karena sudah memenuhi empat syarat tadi. Namun demikian, yang melakukan assesment tetap LPEI Jakarta. Insya Allah minggu depan LPEI ke Jatim. Tahun ini yang kami siapkan 15 desa,” kata Khofifah.
Kepala Desa Nur Wakid mengapresiasi inisiatif Gubernur Khofifah mewujudkan Plumbongambang sebagai desa devisa. “Semoga dengan program tersebut para pengusaha manik-manik semakin berkembang. Juga derajat ekonomi masyarakat makin meningkat,” kata Nur Wakid. [suf]






