Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Presnas Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Maskuri Bakri mengatakan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), bukan hanya ulama pemersatu umat Islam di Indonesia, namun juga tokoh yang berperan besar dalam mengangkat derajat kemanusiaan.
Hal itu dibuktikan dengan usulan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari agar Arab Saudi tidak hanya menggunakan satu madzhab.
“Beliau pemersatu, pemersatu kebangsaan, keagamaan, persatuan untuk barmadzhab,” ujar dia dalam acara bedah buku ‘Mengenal Sosok Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia- Percik Pemikiran Refleksi Socio-Religious KH Abdul Halim Mahfduz’ yang digelar oleh Lembaga kajian Strategis Pemikiran (LKSP) KH. Hasyim As’ari di hotel Khas Surabaya, Selasa (16/7/2024).
Mantan rektor Unisma ini menegaskan, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari melakukan pekerjaan besar dalam mengangkat derajat kemanusiaan di tengah masyarakat yang banyak melakukan kemaksiatan dan premanisme.
Menurut dia, pendirian Pondok Pesantren menjadi bukti bahwa KH Hasyim memiliki peran dalam mengentaskan masyarakat dari berbagai keterbelangguan saat itu.
“Maka hadirnya beliau untuk mendirikan pesantren, bukan untuk gagah-gagahan, tapi beliau punya misi kekholifahan. Kebesaran beliau dalam konteks sosiologis saat itu, serba keterbatasan dari sisi ekonomi, transportasi, politik. Semuanya mengalami keterbatasan saat itu, terapi beliau bisa melakukan sesuatu yang luar biasa,” ungkap dia.
Maskuri menegaskan, berdirinya Pesantren Tebuireng bertujuan untuk misi mengangkat derajat kemanusiaan. KH Hasyim Asy’ari juga menyentuh ekonomi masyarakat agar bisa berdaya. Karena jika ekonomi disentuh, maka persoalan yang lain akan ikut tersentuh.
“Premanisme mulai tekikis. Hadratutussyaikh memberikan pendampingan, demikian juga soal agama. Ekonomi menjadi pilar penting menyelesaikan persoalan yang lain,” terang dia.
Sementara itu, Ketua PW ISNU Jawa Timur, M Mas’ud Said mengatakan, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial-agama harus dijaga. Menjaga NU dipandang penting karena organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut merupakan legacy Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari.
Menurut dia, pengaruh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari sangat besar, baik dalam keagamaan atau kehidupan sosial. “Selain Pesantren Tebuireng, NU sebagai legacy Hadratussyeikh yang harus dijaga,” ujar dia.
Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur Biyanto mengungkapkan, banyak tokoh Muhammadiyah alumni Tebuireng. Seperti KH Abdurrohim Nur (Mantan Ketua PW Muhammadiyah Jatim) KH Abdurrahman, ahli hadist juga alumni Tebuireng.
“Jadi ini bisa kerjasama dengan Muhammadiyah, bagaimana proses alumni Tebuireng menjadi Muhammadiyah bisa ditulis menjadi buku ini,” kata dia.
Menurutnya, buku tersebut perlu memotret banyak tentang perjumpaan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Dua tokoh penting ini telah berbagi peran, KH Ahmad Dahlan mengurusi muslim urban, sedangkan KH Hasyim Asy’ari konsen dengan muslim pedesaan.
“Perjumpaan ini perlu diperbanyak, betapa tokoh mereka sering berkumpul. Sehingga anak muda Muhammadiyah dan NU bisa menangkap pesan. Perbedaan kecil itu hal biasa, tetapi yang subtansi antara NU dan Muhammadiyah harus rukun. Kalau ngak rukun moderatisme yang terbangun lama akan kacau,” ujar dia. [asg/ian]






