Surabaya (beritajatim.com) – Ketua KONI Jawa Timur, M Nabil, menegaskan pentingnya peran pelatih sebagai figur sentral yang tak hanya ahli menyusun program latihan, tetapi juga mampu menjadi pendamping, motivator, dan penyelesai konflik di lingkungan atlet. Hal ini disampaikannya kepada para calon pelatih Puslatda 100 VI dan calon pelatih PON cabang olahraga bela diri (martial art) tahun 2025.
“Pelatih ideal itu bukan hanya pintar melatih. Tapi juga dihormati, bisa membina, dan mampu menciptakan suasana tim yang harmonis,” ujar Nabil, Kamis (31/7/2025).
Nabil secara khusus menyoroti potensi konflik internal di dalam cabang olahraga yang bisa mengganggu performa atlet. Ia menyatakan bahwa pelatih seharusnya menjadi solusi dari masalah, bukan justru menjadi sumber konflik.
“Jangan sampai masalah itu muncul dari pelatih. Penyelesaian masalah itu harus dilakukan pelatih. Pelatih kan sama dengan guru yang menciptakan keguyuban, sehingga atlet menjadi nyaman menjadi atlet Jawa Timur,” tandasnya.
Dalam proses seleksi kali ini, aspek kepribadian menjadi indikator penting yang turut dinilai. Pelatih yang ideal menurut Nabil adalah mereka yang memiliki tanggung jawab, integritas, serta mampu bekerja sama secara harmonis dalam tim.
“Namanya pelatih harus punya performance plus. Plus-nya ya skill-nya, ya kompetensinya, moralnya, dan attitude-nya juga. Dalam posisi menjadi orang tua yang mengayomi dan menciptakan suasana guyub. Jangan sampai sebaliknya,” lanjutnya.
Proses seleksi atau screening ini diikuti oleh 293 calon pelatih dari berbagai cabang olahraga. Mereka dinilai oleh 13 asesor dari tim Diktar Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Aspek penilaian meliputi evaluasi program latihan, pengalaman melatih, serta prestasi atlet yang pernah dibina di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. [way/beq]






