Gresik (beritajatim.com) – Keris merupakan peninggalan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, seni, dan filosofi tinggi, serta telah diakui UNESCO. Tidak heran jika banyak kolektor berburu senjata tradisional ini yang diyakini menjadi simbol status dan identitas. Warga Gresik yang ingin melihat keris berusia ratusan tahun hingga yang bernilai Rp 500 juta, kini tidak perlu pergi jauh ke luar kota.
Di galeri Yayasan Samuhita, yang berlokasi di Jalan Nasrun Baru Gang 318 bekas kompleks Perum Semen Indonesia Gresik, tersimpan puluhan koleksi keris, mulai dari era Kerajaan Kahuripan, Singosari, hingga Majapahit.
Di antara koleksi tersebut terdapat keris termahal senilai Rp 500 juta, bernama keris Naga Sapto, yang dilapisi emas 2 ons. Keris ini memenangkan ajang Jambore Keris Nasional tahun 2025. “Keris Naga Sapto dibuat pada tahun 2012 dan menjadi best of the best karena dilapisi emas serta berlian dari Eropa,” ujar Sudarto, penasihat Yayasan Samuhita, kepada beritajatim.com, Jumat (31/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat oleh tiga empu. Saat menjadi juara, keris ini sempat ditawar Rp 350 juta oleh kolektor, namun tidak dilepas sehingga kini nilainya meningkat. “Tiga empu yang menggarap keris Naga Sapto membuatnya sangat sempurna, setiap lekuknya dilapisi emas,” tambah Sudarto.
Selain keris termahal, galeri ini juga menyimpan keris berusia 900 tahun bernama Keris Sinom, peninggalan Kerajaan Kahuripan. Keris berwarna hitam itu terbuat dari baja dan batu meteor. Ada pula keris peninggalan Kerajaan Singosari bernama Damar Murup, yang ditemukan kolektor di situs Singosari Malang.
Sudarto menjelaskan bahwa galeri Yayasan Samuhita nantinya dijadikan tempat edukasi bagi sekolah dan masyarakat agar warisan budaya ini tidak tergerus zaman. “Edukasi mengenai keris akan terus kami masifkan, termasuk cara merawatnya agar tidak cepat rusak,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik, drg. Syaifuddin Ghozali, menuturkan bahwa tempat ini menjadi wadah bagi kolektor keris.
“Pusaka asal Gresik sangat luar biasa. Salah satunya adalah keris Kalamunyeng milik Sunan Giri. Selain itu, ada pula Pesarean Empu Suko di Surowiti, Kecamatan Panceng, yang konon merupakan pembuat keris pada masa Majapahit,” ujarnya.
Ghozali menambahkan, keberadaan galeri tersebut tidak hanya menyimpan keris saja. Di dalam bangunan yang sama juga terdapat Café Titik Kumpul, tempat yang cocok untuk bersantai sambil belajar sejarah keris. “Rencananya, jika tidak ada kendala, tahun depan kami akan menggelar pameran keris nasional di Gresik,” imbuhnya. [dny/kun]






