Malang (beritajatim.com) – Eksistensi Soto Kambing Malangan kini tengah berada di persimpangan jalan. Sebagai kuliner unik yang lahir serta besar di wilayah Kabupaten Malang, khususnya daerah Ngeluh, hidangan ini menghadapi tantangan regenerasi yang serius.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Ary Budiyanto, S.S., M.A., menegaskan bahwa Soto Kambing Malangan merupakan entitas kuliner yang mandiri serta unik. Meski kini populer di berbagai daerah, akar sejarahnya tetap tertanam kuat di tanah Malang.
Hal tersebut diungkapkan dalam acara Diskusi Video Dokumenter dan Diseminasi Buku bertajuk “Semangkuk Lumintu ing Brantas: Seruput Kisah Soto Kambing Malangan” yang digelar di Ruang Seminar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Jumat (6/2/2026).
Menyikapi kekhawatiran akan hilangnya tradisi kuliner ini, Ary Budiyanto menjelaskan bahwa buku yang ia susun bersama Nedi Putra AW tidak hanya berisi narasi sejarah, tetapi juga menyertakan resep agar bisa dipelajari khalayak luas.
“Harapannya dengan buku ini, karena ada resepnya juga, masyarakat bisa mereplikasi lagi sambil tetap makan di tempat-tempat yang sudah resmi. Ini memberikan ruang untuk berkreasi,” ujar Ary.
Baginya, perubahan dalam dunia kuliner adalah sesuatu yang niscaya atau pasti terjadi. Namun, melalui dokumentasi tertulis, inovasi yang muncul di masa depan tidak akan kehilangan jati dirinya. “Meskipun berubah pasti itu niscaya yang harus terjadi, tapi akarnya tidak dilupakan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar membedah teori, Ary Budiyanto melontarkan ajakan langsung bagi masyarakat maupun pembaca untuk memberikan dukungan nyata kepada para pedagang lokal. Ia mendorong masyarakat untuk kembali meramaikan warung-warung soto milik para maestro yang masih bertahan hingga saat ini.
“Ini juga ajakan bagi para pembaca atau masyarakat untuk tetap ke warung-warung para maestro, mumpung mereka masih ada,” ajak Ary.
Senada dengan hal tersebut, jurnalis Nedi Putra AW menambahkan bahwa keberlangsungan warung tradisional ini bergantung pada ekosistem yang disebut lumintu, kondisi di mana pelanggan selalu datang silih berganti secara terus-menerus.
Riset yang dilakukan selama tiga bulan mengungkap sisi unik soto kambing, mulai dari pengaruh peranakan Tionghoa hingga penggunaan koya serta kecap manis yang menjadi selera khas warga Malang. Penggunaan jeroan yang melimpah juga dibedah sebagai strategi ekonomi masa lalu agar masyarakat luas dapat menikmati hidangan mewah dengan harga terjangkau.
Buku “Semangkuk Lumintu ing Brantas” diharapkan menjadi referensi primer bagi siapa pun yang ingin mendalami soto kambing dari sisi sosial-budaya. Melalui langkah kolaborasi antara akademisi, jurnalis, serta komunitas pendukung seperti Putra Surya Santosa, diharapkan Soto Kambing Malangan tetap lestari serta tidak hanya menjadi cerita di masa depan. (dan/kun)






