Surabaya (beritajatim.com)– Belakangan ini, kasus campak kembali menjadi perhatian serius di berbagai wilayah Indonesia. Penyakit yang sering dianggap sepele sebagai “ruam biasa” ini sebenarnya merupakan infeksi virus dari keluarga Paramyxoviridae yang sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala serta memahami risikonya sejak dini.
Bagaimana Campak Menular?
Campak menyebar melalui udara (airborne). Virus dapat keluar dari tubuh penderita saat batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini bahkan mampu bertahan di udara maupun menempel pada permukaan benda hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan. Hal ini membuat penularan campak terjadi sangat cepat,
terutama di tempat yang ramai atau tertutup. Masa paling menular biasanya dimulai sekitar empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya.
Tahapan Gejala Campak
Gejala campak biasanya berkembang selama dua hingga tiga minggu melalui beberapa tahapan berikut:
1. Masa Inkubasi (7–21 hari)
Virus sudah masuk ke dalam tubuh, tetapi penderita belum merasakan gejala.
2. Fase Awal (Prodromal)
Penderita mulai mengalami demam tinggi, biasanya di atas 38°C, disertai
gejala khas “3C”, yaitu Cough (batuk), Coryza (pilek), dan Conjunctivitis
(mata merah atau berair).
3. Bercak Koplik
Muncul bintik putih kecil di bagian dalam pipi atau rongga mulut yang menjadi
tanda khas infeksi campak.
4. Fase Ruam
Ruam merah muncul sekitar tiga hingga lima hari setelah gejala awal,
biasanya dimulai dari wajah atau garis rambut lalu menyebar ke seluruh
tubuh.
Bahaya Komplikasi
Campak bukan hanya penyakit kulit. Infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada balita, orang dewasa di atas 20 tahun, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Komplikasi yang paling berbahaya adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang menjadi penyebab utama kematian akibat campak pada anak. Virus juga dapat menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis, yang dapat memicu kejang hingga kecacatan permanen. Dalam kasus yang jarang, campak juga dapat menyebabkan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), yaitu gangguan saraf yang mematikan dan dapat muncul beberapa tahun setelah penderita sembuh.
Penanganan dan Pentingnya Vitamin A
Hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk campak. Penanganan biasanya bersifat suportif, seperti menjaga asupan cairan, nutrisi, serta istirahat yang cukup. Pemberian Vitamin A juga sangat dianjurkan oleh tenaga medis karena dapat membantu menurunkan risiko kematian serta mencegah kerusakan mata yang dapat menyebabkan kebutaan pada anak.
Vaksinasi sebagai Perlindungan
Cara paling efektif mencegah campak adalah melalui vaksinasi MR (Measles- Rubella) atau MMR (Measles-Mumps-Rubella). Vaksin ini tidak hanya melindungi individu, tetapi juga membantu membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga melindungi orang-orang yang tidak dapat menerima vaksin karena kondisi medis tertentu.
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah pada campak, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. [Meychel Salsabyla]





