Jakarta (beritajatim.com)– Kasus penyakit campak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat ribuan kasus infeksi terjadi hanya dalam kurun waktu dua bulan pertama tahun 2026.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak Januari hingga awal Maret 2026 terdapat 10.453 kasus suspek campak di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 8.372 kasus telah terkonfirmasi positif campak dan empat orang dilaporkan meninggal dunia.
Lonjakan ini juga memicu 45 kejadian luar biasa (KLB) yang tersebar di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Endang Budi Hastuti melansir situs remi Kemenkes menjelaskan bahwa meningkatnya kasus campak terutama dipicu oleh ketimpangan cakupan imunisasi di berbagai daerah.
Menurutnya, masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sehingga rentan tertular virus.
Penyakit Sangat Menular
Campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus morbillivirus, yaitu virus RNA yang menyerang sistem pernapasan.
Penyakit ini dikenal sangat mudah menular. Angka reproduksi dasar atau R0 campak mencapai 17 hingga 18, yang berarti satu orang penderita dapat menularkan virus kepada banyak orang dalam waktu singkat.
“Penularan campak terjadi melalui percikan air liur dari penderita, terutama saat batuk atau bersin. Virus juga dapat menyebar melalui benda yang telah terkontaminasi,” ujar Endang dalam webinar bertema Campak Bisa Dicegah, Ayo Jaga Anak dan Keluarga.
Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai
Endang menjelaskan bahwa campak memiliki masa inkubasi relatif singkat sehingga sering tidak disadari pada tahap awal.
Masa inkubasi virus biasanya sekitar 10 hari setelah seseorang terpapar virus. Gejala demam biasanya muncul sekitar hari ke-15, sementara ruam pada kulit muncul sekitar hari ke-18.
Beberapa gejala utama campak antara lain:
Demam tinggi
Batuk
Pilek
Mata merah atau konjungtivitis
Ruam merah pada kulit
Rasa gatal pada kulit
Dalam beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami diare.
Anak Tanpa Imunisasi Paling Rentan
Salah satu faktor risiko terbesar penularan campak adalah anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubella secara lengkap.
Selain itu, risiko juga meningkat pada kondisi berikut:
Kontak erat dengan penderita campak
Status gizi yang kurang baik
Tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
“Anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap memiliki risiko tertular lebih tinggi,” jelas Endang.
Campak Bisa Picu Komplikasi Serius
Meski sering dianggap penyakit biasa, campak sebenarnya dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, terutama pada anak-anak.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
Pneumonia atau infeksi paru-paru
Diare berat yang memicu dehidrasi
Infeksi telinga tengah yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran
Radang otak (ensefalitis) yang berpotensi fatal
Karena itu, pencegahan menjadi langkah penting untuk menghindari dampak yang lebih serius.
Imunisasi Jadi Cara Paling Efektif
Direktur Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan Niken Wastupalupi menegaskan bahwa imunisasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah campak.
Pemerintah telah menetapkan jadwal imunisasi campak-rubella bagi anak, yaitu:
Dosis pertama pada usia 9 bulan
Dosis kedua pada usia 18 bulan
“Anak harus mendapatkan imunisasi sesuai jadwal agar memiliki kekebalan yang cukup terhadap virus campak,” ujar Niken.
Ia menambahkan bahwa pengendalian penyakit menular seperti campak membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, hingga orang tua.
Tanpa cakupan imunisasi yang tinggi serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, risiko munculnya kembali wabah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah akan tetap menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. [aje]






