Surabaya (beritajatim.com)– Di balik warnanya yang merah menyala dan bentuknya yang menyerupai kupu-kupu, kembang turi merah (Sesbania grandiflora) menyimpan potensi besar yang seringkali terlupakan. Jika biasanya kita lebih akrab dengan varian bunga turi putih dalam sepiring pecel, varian merah ini sebenarnya memiliki nilai lebih, baik dari segi estetika kuliner maupun kandungan nutrisinya. Di beberapa daerah di Jawa Timur, keberadaan pohon turi merah mulai langka, namun minat masyarakat terhadap tanaman ini kembali meningkat seiring dengan tren gaya hidup sehat.
Secara ilmiah, warna merah pada bunga ini bukan sekadar hiasan, melainkan indikator adanya kandungan antosianin yang tinggi. Zat ini merupakan antioksidan kuat yang berperan penting dalam menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan sel tubuh. Selain itu, kembang turi merah juga kaya akan vitamin C dan zat besi, menjadikannya salah satu “superfood” lokal yang sangat baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah anemia secara alami tanpa ketergantungan pada suplemen kimia.
Dalam dunia kuliner, kembang turi merah menawarkan tekstur yang unik; renyah namun lembut setelah dimasak. Rasanya memiliki semburat pahit yang tipis namun menyegarkan, sangat cocok dipadukan dengan bumbu-bumbu yang kuat seperti sambal kacang atau tumisan bumbu pedas. Kehadiran warna merah alaminya juga memberikan nilai visual yang tinggi pada hidangan, sehingga kini banyak koki mulai meliriknya sebagai edible flower atau bunga yang bisa dikonsumsi untuk mempercantik sajian kelas atas.
Namun, untuk mendapatkan rasa yang sempurna, diperlukan teknik pengolahan yang tepat agar rasa pahitnya tidak mendominasi.
Kunci utamanya terletak pada pembuangan bagian putik atau benang sari di bagian tengah bunga sebelum dimasak. Bagian itulah yang menjadi sumber rasa pahit yang tajam. Setelah dibersihkan, kembang turi merah cukup dicuci bersih dan direbus sebentar (blansir) atau langsung ditumis dengan api besar agar warnanya tetap cerah dan kandungan vitaminnya tidak hilang.
Menu paling favorit yang menggunakan bahan ini tentu saja adalah Pecel Turi Merah. Perpaduan antara gurihnya saus kacang dengan tekstur bunga yang sedikit kenyal menciptakan sensasi makan yang berbeda dari sayuran hijau biasa. Selain pecel, bunga ini juga sangat nikmat jika dijadikan tumisan dengan campuran teri atau udang rebon. Aroma khas dari bunga turi yang terkena panas wajan akan membangkitkan selera makan siapa pun yang menciumnya.
Dari sisi pengobatan tradisional, kembang turi merah sudah lama digunakan secara turun-temurun untuk mengatasi berbagai keluhan ringan seperti sariawan dan radang tenggorokan. Sifat anti radang dan antibakteri yang terkandung di dalamnya efektif untuk meredakan panas dalam. Cukup dengan mengkonsumsi rebusan bunga ini secara teratur, banyak orang percaya bahwa kesehatan saluran pencernaan juga akan lebih terjaga berkat kandungan seratnya yang cukup tinggi.
Keunggulan lain dari tanaman turi adalah kemampuannya sebagai tanaman multiguna yang ramah lingkungan. Pohonnya sering digunakan sebagai peneduh atau pagar hidup di pedesaan, sementara akarnya mampu mengikat nitrogen untuk menyuburkan tanah di sekitarnya. Mulai sekarang, jangan ragu untuk menyertakan si merah eksotis ini dalam menu harian Anda sebagai investasi kesehatan jangka panjang yang memanjakan lidah. [Devi Dwi Windah Sari]






