Jember (beritajatim.com) – Komoditas tanaman kelor di Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur berkualitas ekspor. Universitas Jember memberikan bantuan alat penyulingan daun kelor kering dan alat pressing biji kelor untuk menambah nilai ekonomis komoditas.
Dekan Fakultas Pertanian Unej Soetriono mengatakan, dengan alat penyulingan tersebut, para petani dapat mengolah bahan baku kelor kering atau basah menjadi pewangi ruangan. “Alat pressing biji kelor untuk membuat minyak oles,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Selasa (24/1/2023).
Minyak oles dari biji kelor ini berkhasiat melembabkan, menghaluskan, dan untuk menjaga kulit kepala dengan kandungan polifenol, flavonoit, vitamin C, dan anti oksidan. “Nilai kandungan yang ada pada biji kelor dan daun kelor sama, namun biji kelor dapat meningkat kandungannya jika disangrai,” kata Soetriono.
Petani telah banyak membuat turunan produk kelor, antara lain obat herbal dalam bentuk kapsul, teh celup, keripik, masker, kerupuk, tepung dan makanan ringan. Ini membuktikan nilai ekonomi komoditas tersebut sangat tinggi dengan bahan baku yang sangat melimpah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”unej”]
Menurut Soetriono, sejak 2014 masyarakat tersebut terus berinovasi dalam mengolah produk-produk turunan dari kelor. Dia berharap masyarakat konsisten dalam mengembangkan produk tersebut. “Tentunya akan kami dampingi dengan riset-riset yang kami lakukan,” katanya, usai berkunjung ke Desa Pakandangan, beberapa waktu lalu.
Ahmad Nurdin, ketua Kelompok Tani yang sekaligus di Direktur CV. Nurul Jannah, bersyukur Fakultas Pertanian lama telah mendampingi mereka. “Tak hanya mendampingi lewat riset, namun bagaimana cara memasarkan produk-produk kami di pasar nasional hingga ekspor,” katanya.
Kontribusi Universitas Jember melaui riset dan pengabdian lebih terukur dan terarah. “Sehingga progaram tersebut langsung dirasakan oleh masyarakat salah satunya pendampingan budidaya tanaman kelor tersebut,” kata Nurdin. [wir/ted]






