Jember (beritajatim.com) – Budaya akademis di Universitas Jember (Unej), Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjawab problem ketahanan pangan. Sejumlah inovasi sektor pangan di Unej sesuai dengan yang diinginkan Presiden Joko Widodo.
“Presiden menginginkan semua masyarakat Indonesia menanam apa saja, karena kita menghadapi krisis pangan global,” kata Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko, dalam acara kuliah umum mengenai ketahanan pangan dan ketahanan energi di auditorium Unej, Jumat (24/3/2023).
Menurut Moeldoko, kedelai sempat dibahas dalam sidang kabinet. “Karena impor kedelai kita sangat besar, pemerintah ingin kita menanam kedelai secara massif. Walaupun kedelai tumbuh di daerah subtropis. Mau bagaimana pun kita akan sulit memproduksi kedelai yang menyaingi yang dihasilkan Amerika. Tapi kita menuju ke sana,” katanya.
Moeldoko berterima kasih dengan inovasi ditemukannya kedelai varietas Baluran oleh Suyono, doktor pertanian, yang mampu menghasilkan 3 – 3,5 ton per hektare lahan dengan umur panen 80 hari, lebih cepat 10 hari. “Ini menjawab keinginan Presiden,” katanya.
Saat ini, pemerintah melakukan pendekatan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian untuk menuju ketahanan pangan, swasembada pangan, hingga kedaulatan pangan. “Intensifikasi adalah bagaimana kita bekerja keras agar produktivitas meningkat. Ekstensifikasi adalah bagaimana pemerintah segera mencari lahan-lahan pengganti baru, karena luas lahan baku kita setiap tahun merosot,” kata Moeldoko.
“Turunnya gede banget. Ini kalau tidak dipikirkan mencari lahan pengganti, maka berbanding terbalik akan terjadi. Satu sisi populasi (masyarakat) Indonesia meningkat, pada sisi yang lain produksi beras kita menurun karena luas lahan dan macam-macam,” kata Moeldoko.
Program food estate adalah bagian dari ekstensifikasi. “Senin kemarin, saya bersama Presiden ke Papua. Di sana ada tiga ribu hektare lahan baru yang siap ditanami jagung. Itu bagian dari food estate yang disiapkan pemerintah,” kata Moeldoko. [wir]






