Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) memperketat pengawasan pelaksanaan seleksi mahasiswa baru jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026. Langkah ini diambil guna menjamin integritas ujian, mulai dari penggunaan metal detector hingga instruksi khusus untuk mematikan kamera CCTV di dalam ruang ujian.
Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa seluruh prosedur keamanan ini didasarkan pada evaluasi tahun sebelumnya. Cara ini juga untuk meminimalisir potensi kecurangan, termasuk praktik perjokian yang semakin canggih menggunakan alat bantu elektronik.
Prof. Hariyono menjelaskan, pada tahun 2026 ini terdapat kebijakan baru dari panitia pusat terkait penempatan lokasi tes. Sebanyak 19.640 peserta yang mengikuti ujian di pusat UTBK UM tidak ditentukan oleh kemauan mandiri, melainkan dialokasikan langsung oleh sistem pusat.
“Peserta seleksi tahun 2026 tidak bisa menentukan lokasi tes secara spesifik, mereka hanya bisa memilih kota saja. Ini adalah upaya panitia pusat untuk meminimalisir potensi ‘joki sistematis’ atau oknum yang sengaja mencari lokasi tes yang sama agar bisa bekerja sama menggunakan alat canggih,” ujar Prof. Hariyono saat jumpa pers di Gedung Rektor UM lantai 1, Selasa (21/4/2026).
UM sendiri menyiagakan 1.304 unit komputer yang tersebar di 67 ruangan di berbagai fakultas serta gedung TIK. Dengan kapasitas tersebut, UM melayani rata-rata 2.600 peserta per hari yang terbagi dalam dua sesi.
Salah satu prosedur unik yang diterapkan UM tahun ini adalah mematikan CCTV di dalam ruang ujian. Keputusan ini merupakan arahan dari panitia pusat guna mencegah adanya upaya perekaman layar komputer secara ilegal melalui sistem pemantau jarak jauh.
“CCTV kami matikan untuk menjaga kerahasiaan proses pelaksanaan. Dikhawatirkan jika CCTV aktif, ada potensi oknum merekam apa yang muncul di layar monitor peserta. Kami juga memastikan pengecekan ketat dilakukan sebelum peserta masuk ke ruangan,” tambah Rektor.
Senada dengan Rektor, Wakil Rektor 1 UM, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd., menyampaikan bahwa koordinasi tahun ini jauh lebih intensif. Meski peserta yang tes di UM berjumlah 19.640 orang, peminat yang mendaftar ke UM secara nasional mencapai angka 45.939 orang.
“Banyak peserta yang mendaftar ke UM tapi tes di lokasi lain sesuai domisili atau penempatan pusat. Kami mengawasi betul anomali lokasi tes, misalnya orang Malang tapi tes di luar Jawa tanpa alasan logis, itu menjadi indikasi awal untuk pengawasan lebih ketat,” kata Prof. Ibrahim.
UM juga menunjukkan komitmennya terhadap inklusivitas dengan memfasilitasi 11 peserta disabilitas. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 9 orang. Guna mendukung kelancaran tes bagi peserta berkebutuhan khusus, UM menerjunkan pendamping dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gempita dan dosen dari Prodi S1 Pendidikan Khusus (sebelumnya Pendidikan Luar Biasa).
Kepala Subdirektorat Seleksi UM, Dr. Rizky Firmansyah, S.E., M.S.A., menambahkan bahwa setiap ruangan dijaga oleh dua pengawas dan satu teknisi yang telah melalui tahap coaching wajib.
“Kredibilitas adalah harga mati. Pengawas yang tidak ikut coaching tidak kami izinkan bertugas. Kami juga belajar dari kasus 2022, di mana ditemukan kamera di kancing kemeja. Artefak kecurangan itu kami simpan sebagai bahan uji coba metal detector setiap tahun,” tegas Dr. Rizky.
Direktur Pendidikan UM, Prof. Evi Eliyanah, S.S., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa setiap calon mahasiswa diperiksa secara menyeluruh (from top to toe). Peserta yang terdeteksi membawa logam mencurigakan pada pakaiannya akan diminta mengganti baju dengan kemeja putih yang telah disediakan panitia.
“Kami menyiapkan sekitar dua lusin baju ganti. Jika metal detector berbunyi dan sumber logamnya mencurigakan di area baju, peserta wajib ganti. Termasuk bagi peserta pengguna behel atau kawat gigi, kami wajibkan memakai masker untuk mencegah penggunaan kamera mikro di mulut,” tutur Prof. Evi.
Langkah preventif lainnya adalah kebijakan Rektor yang memberlakukan perkuliahan daring (online) bagi mahasiswa reguler selama masa UTBK berlangsung hingga 28 April mendatang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan di pintu masuk kampus serta menjaga ketenangan suasana ujian.
UM menegaskan tidak akan segan menyerahkan peserta ke ranah hukum jika ditemukan unsur kriminal seperti manipulasi identitas atau keterlibatan sindikat joki. Dengan pengamanan berlapis ini, diharapkan seleksi nasional di Universitas Negeri Malang berjalan jujur, transparan, dan menghasilkan calon mahasiswa berkualitas.
Sebagai informasi, total peserta tes di UM sebanyak 19.640 orang, total peminat UM sebanyak 45.939 orang, kapasitas komputer 1.304 unit per sesi, jumlah ruangan 67 ruang tes dengan 1.009 orang pengawas, serta terdapat 11 peserta disabilitas. (dan/kun)






