Pelaku pariwisata di Kabupaten Jember, Jawa Timur, punya cara sendiri untuk bertahan dengan tetap memposisikan diri sejajar dengan pemerintah daerah. Mereka merintis program kawasan wisata terintegrasi sejak 2017 yang berlanjut hingga saat ini dengan menempatkan Pemkab Jember sebagai mitra.
Semula para pelaku pariwisata di Jember memilih berbisnis dengan cara masing-masing. Terkadang ada benturan d antara sesama mereka.
Kesadaran untuk begerak bersama mulai muncul pada medio 2017 dengan program Tamasya Bus Kota. “Di situ kami mengedukasi masyarakat di kawasan-kawasan yang berpotensi wisata besar untuk terlibat dalam tourism partnership atau kemitraan pariwisata,” kata Hasti Utami, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jember yang juga Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Jember, Minggu (6/7/2025).
Tujuan mereka saat itu sederhana: meningkatkan pendapatan, dan dengan demikian bisa sedikit memperbaiki taraf hidup pelaku pariwisata.
Pemberdayaan sektor pariwisata ini terintegrasi dengan pemberdayaan sektor transportasi yang selama ini terabaikan. Hasti dan sejumlah pelaku pariwisata melibatkan pelaku angkutan konvensional seperti angkutan kota, ojek, becak, dan mobil pengendara umum di desa untuk menjadi angkutan wisata.
Ini bukan sekadar angkutan wisata. Hasti menginginkan kegiatan itu sebagai program, bukan proyek. “Kalau program akan ada keberlanjutan. Tapi kalau proyek, biasanya sekali selesai. Dengan program, masyarakat ditempatkan sebagai subyek, bukan obyek. Ini berbeda dengan logika proyek,” katanya.
Para pengemudi angkutan umum yang setuju bergabung kemudian dilatih agar terampil sebagai pemandu wisata. Dengan keahlian itu, mereka tak hanya mengantarkan para pelancong ke lokasi-lokasi wisata di Jember, namun juga menjadi pemandu yang menjelaskan sejarah dan potensi di sana..
Selain Tamasya Bus Kota, ada program Jember Heritage Walking Tour yang sebenarnya diperuntukkan warga Jember sendiri. Menurut Hasti, program ini untuk memperkenalkan kekayaan sejarah kawasan kota Jember yang tak banyak diketahui warga sendiri. “Di situ fokus kami adalah menciptakan duta-duta wisata untuk Jember,” katanya.
Selain kota, program kawasan wisata terintegrasi ini melibatkan pelaku pariwisata di kawasan pantai dan gunung atau dataran tinggi. Pergerakan mereka sunyi tanpa banyak berharap uluran tangan dari pemerintah.
Kamis, 3 Agustus 2023 Hasti Utami mendapat kesempatan memaparkan konsep kawasan pariwisata terintegrasi ini di hadapan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam acara Destination Leadership Project Plan di Bogor, Jawa Barat. Keberangkatannya saat itu mendapat sokongan langsung dari Bupati Hendy Siswanto yang terkesan dengan kemandirian para pelaku pariwisata tersebut.
Saat itu Hasti mempresentasikan Kawasan Wisata Terintegrasi Segoro Kidul, Kawasan Argopuro- Raung, dan kawasan perkotaan. “Dalam pengembangan pariwisata ini kita butuh percepatan dengan membagi Jember menjadi kawasan-kawasan wisata yang terintegrasi, untuk mempermudah kita menangani masing-masing kawasan berdasarkan karakteristiknya,” katanya.
Bupati Hendy Siswanto kemudian mengundang audiensi para pelaku pariwisata ke Pendapa Wahyawibawagraga pada 18 September 2023. Saat itu, pelaku pariwisata meminta Pemkab Jember membangun infrastruktur yang mempemurdah akses para pelancong untuk datang.
Selasa, 12 Desember 2023, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember memperkenalkan program kawasan wisata terintegrasi tersebut, sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas yang sudah dirintis para pelaku pariwisata tersebut.
Kawasan Wisata Terintegrasi Segoro Kidul terdiri atas beberapa klaster, yakni klaster Bandealit, klaster Payangan, dan klaster Jalur Lintas Selatan.
Bupati Hendy Siswanto pun merealisasikan pembangunan infrastruktur jalan di kawasan Bandealit intuk mendukung penguatan kawasan wisata terintegrasi yang diupayakan para pelaku wisata lokal. Ini langkah awal untuk menghubungkan antarkawasan wisata, terutama Bandealit, dengan menjadikan alun-alun Jember Nusantara sebagai titik nol.
Sementara untuk Kawasan Wisata Budaya Terintegrasi Argopuro-Raung, digarap oleh pelaku wisata desa-desa di kaki Gunun Raung dan Argopuro. Salah satunya kawasan desa wisata megalithikum di Kamal, Kecamatan Arjasa.
“Mereka punya peninggalan pubakala yang mulanya belum bisa mendatangkan wisatawan. Jadi kami memperkenalkan Desa Kamal itu sebagai desa wisata dengan magnet utama kuliner khas megalitikum,” kata Hasti. Dengan mengedepankan kuliner makanan tradisional, para pelancong tertarik datang.
Para pelaku pariwisata menggelar program percontohan Jelajah Purba pada 10 Desember 2023, bersama HPI Jember dan kelompok-kelompok sadar wisata bersama Disparbud Jember serta asosiasi-asosiasi pariwisata.
“Kami juga punya kawasan Wisata Terintegrasi Religi dan Perkotaan. Itu untuk untuk untuk kawasan-kawasan wisata religi plus daerah perkotaan di luar dua kawasan sebelumnya,” kata Hasti.
Menurut Hasti, Program Kawasan Wisata Terintegrasi melibatkan masyarakat untuk aktif membangun ekosistem pariwisata secara gotong royong tanpa menggunakan anggaran dari pemerintah.
Hasti dan kawan-kawan sempat membuat peta jalan percepatan pengembangan kawasan pariwisata tersebut. Pemerintah Kabupaten Jember diposisikan sebagai mitra dan fasilitator untuk pembangunan infrastruktur maupun akses pendukung.
“Kami sangat senang ketika jalan di Bandealit dibangun. Meskipun tidak semuanya, itu sudah sangat membantu. Karena memang kendala utama kami pada saat membawa wisatawan ke Bandealit adalah transportasi. Hanya bisa dengan mobil-mobil offroad dan sepeda motor khusus untuk mencapai Bandealit. Akhirnya tidak banyak tamu yang kita bawa ke Bandealit,” kata Hasti.
Pariwisata dalam Rencana Pembangunan Jember 2025-2029
Sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas Bupati Muhammad Fawait dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Jember 2025-2029. Dalam naskah Rancangan Akhir RPJMD Jember 2025-2029 setebal 430 halaman, terdapat 127 kata kunci ‘wisata’ dan 94 kata kunci ‘pariwisata’.
Di halaman II-13 dijelaskan, pengembangan pariwisata berkelanjutan dilakukan dengan strategi yang meliputi pengembangan kawasan daya tarik wisata unggulan, pengembangan agrowisata; peningkatan kualitas perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya; pengembangan industri pariwisata yang berdaya saing dan ramah lingkungan; dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan. Strategi pengelolaan kawasan pesisir pun berupa peningkatan kegiatan kepariwisataan.
Di halaman II-141 RPJMD disebutkan, potensi pengembangan sektor pariwisata dapat melalui kawasan daya tarik wisata alam, kawasan daya tarik wisata buatan dan kawasan daya tarik wisata budaya. Perencanaan, pemasaran dan koordinasi yang kuat dengan berbagai stakeholder menjadi bagian penting guna mendorong pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Jember.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember mencatat pada jumlah kunjungan wisata pada 2024 mengalami peningkatan hingga mencapai 1.362.194 kunjungan. RPJMD menyebutkan beberapa faktor pendorong, yakni munculnya destinasi wisata baru yang menarik wisatawan; adanya penyelenggaraan event berskala nasional dan internasional yang meningkatkan daya tarik daerah sebagai tujuan wisata; dan optimalisasi promosi wisata, termasuk melalui media sosial dan kerjasama dengan berbagai pihak.
Selain itu, perbaikan sarana dan prasarana tempat wisata dan kolaborasi dengan kabupaten lain dalam penyusunan paket wisata, membuat wisatawan memiliki banyak pilihan perjalanan. Namun RPJMD juga mengakui salah satu faktor pendorong adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia pelaku pariwisata.
RPJMD juga menyebutkan, arah kebijakan pembangunan Jember pada 2028, yakni ‘pariwisata maju, ekonomi maju’. Pemkab Jember memiliki delapan arah kebijakan untuk meningkatkan potensi ekonomi melalui sektor pariwisata.
Pertama, membangun ekosistem pariwisata yang menarik melalui revitalisasi infrastruktur destinasi alam dan pengelolaan berbasis ekowisata untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Promosi event ditingkatkan dengan menempatkan JFC sebagai ikon budaya Jember, serta penyediaan fasilitas penunjang.
Kedua, menarik investasi dan kapital dari pihak eksternal melalui kemudahan perizinan dan insentif lain bagi investor. Selain itu, RPJMD menyebutkan, Kabupaten Jember juga dapat berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif serta menetapkan pengembangan kawasan khusus pariwisata.
Ketiga, meningkatkan konektivitas dan infrastruktur pendukung. Keempat, menciptakan branding Jember sebagai destinasi wisata unggulan dengan membuat citra Kabupaten Jember sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi dan juga layak untuk investasi.
Kelima, membuka jalur wisata baru. Keenam, pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Berikutnya, pembangunan museum sebagai Pengembangan infrastruktur budaya untuk pelestarian budaya di Jember. Terakhir, konservasi, pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya serta objek pemajuan kebudayaan.
Komitmen awal Bupati Fawait terhadap pengembangan pariwisata lokal ditunjukkan dengan menjadikan Pantai Watu Ulo, sebuah pantai destinasi wisata di Kecamatan Ambulu, yang berjarak kurang lebih 40 kilometer dari alun-alun ke selatan Jember, sebagai lokasi acara seremonial penyerahan surat pengangkatan ribuan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), 1 Juni 2025.
“Saya ingin menunjukkan bahwa Watu Ulo salah satu destinasi wisata yang indah di Kabupaten Jember. Kalau sepuluh tahun terakhir ini Jember tidur wisatanya, hari ini waktunya bangkit kembali,” kata Fawait di hadapan ribuan orang PPPK dan pejabat.
Harapan
Hasti menghargai komitmen Fawait tersebut. Apalagi RPJMD menyebutkan dengan jelas pengembangan pariwisata melalui kolaborasi dengan pelaku industri kreatif serta menetapkan pengembangan kawasan khusus pariwisata. Sesuatu yang sudah dirintis pelaku pariwisata Jember selama bertahun-tahun.
Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jember ini berharap Pemkab Jember saat ini bisa memfasilitasi keberlanjutan program tersebut. “Karena pada dasarnya program percepatan pengembangan pariwisata, yang termasuk di dalamnya program kawasan wisata terintegrasi, merupakan program yang berasal dari masyarakat dengan difasilitasi pemerintah,” katanya.
Hasti menyebutnya social tourism atau turisme sosial yang berfokus pada program pemberdayaan masyarakat. “Jangan sampai hal-hal yang sifatnya program pemberdayaan masyarakat ini menjadi proyek, karena kami ingin apa yang kami rintis bisa berlanjut,” katanya. [wir]






