Banyuwangi (beritajatim.com) – Penari gandrung dalam pagelaran seni kolosal Gandrung Sewu Banyuwangi memang tak terlepas dari kostum yang dikenakan. Bercorak warna merah merona menjadi ciri khas penari gandrung.
Tidak hanya itu, pada kepala penari gandrung terdapat penutup yang bernama Omprog. Penutup kepala itu bukan sekedar topi biasa pada umumnya, namun merupakan mahkota yang memiliki syarat akan makna.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri menjelaskan mengenai makna dari omprog atau mahkota pada penari gandrung Banyuwangi itu. Menurutnya, Omprog setiap bagiannya memiliki syarat dengan makna.
Setiap bagiannya menyimpan simbol tertentu. Ada pilisan, bathukan, ombyok, kether, nanasan hingga gatutkaca berbadan naga. “Bagian-bagian tersebut menyiratkan makna kehidupan yang senantiasa dinamis. Kehidupan yang harus selalu mengarah kepada kebaikan,” jelasnya.
Dalam gelaran seni kolosal Gandrung Sewu Banyuwangi semua penari tak terlepas dari mahkotanya. Mereka mampu mempertahankan mahkotanya demi pesona penampilan gandrung secara keseluruhan.
Tahun ini, Gandrung Sewu Banyuwangi mengambil tema Omprog : The Glory of Art. Penampilan dari 1200 penari dengan koreografi menarik berpadu dengan atraksi manuver pasukan TNI AU yang mempesona.
Ribuan penonton yang berjubel di Pantai Marina Boom Banyuwangi pun ikut terkagum. Pesona sang penari gandrung memang terbukti menggandrungi setiap siapa saja yang datang.
“Gandrung Sewu tak semata persoalan pertunjukan. Tapi, menjadi konsolidasi kebudayaan. Gandrung Sewu ini juga menjadi bagian dari konsolidasi kebudayaan. Bagaimana kemudian menari gandrung menjadi kebanggaan bagi anak-anak muda. Mereka turut melestarikan seni dan budayanya,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. (rin/kun)
BACA JUGA: Komitmen Banyuwangi Kelola Sampah Dapat Apresiasi dari Pemerintah Norwegia






