Surabaya (beritajatim.com) – Kasus stroke pada usia produktif terus melonjak dan mengancam kualitas hidup masyarakat. Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) bersama Universiti Malaya merespons tren ini lewat kolaborasi akademik internasional.
Kedua institusi menggelar webinar bertajuk “From Spasticity to Contracture”. Forum ini membahas penanganan komprehensif untuk mencegah komplikasi neuromuskular dan muskuloskeletal yang memicu disabilitas jangka panjang.
Dekan FK Unusa, Prof. Budi Santoso, menekankan stroke kini tidak lagi terbatas pada kelompok lanjut usia. Pergeseran tren ke usia produktif menuntut kesiapan tenaga medis dalam melakukan penanganan lebih dini.
“Tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, peningkatan kasus stroke juga mulai terlihat pada usia produktif,” kata Budi, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa forum internasional ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan klinis untuk menjaga produktivitas masyarakat. Penguatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi langkah preventif dalam menghadapi ancaman cacat fisik.
“Melalui forum internasional ini, kami ingin memperkuat kolaborasi akademik sekaligus memperkaya wawasan tenaga kesehatan dalam menangani stroke secara komprehensif,” ujarnya.
Associate Professor Anand Samugam dari Universiti Malaya menyoroti pentingnya integrasi lintas disiplin ilmu saat memulihkan pasien. Penanganan yang terpisah-pisah justru berisiko menghambat proses kembalinya fungsi saraf dan otot secara maksimal.
“Pendekatan neuromuskular dan muskuloskeletal harus dilakukan secara terintegrasi agar pasien stroke tidak hanya bertahan hidup,” ungkap Anand.
Menurutnya, sinergi antar-metode medis sangat menentukan tingkat keberhasilan rehabilitasi fisik bagi penyintas. Fokus utama pelayanan kesehatan harus tertuju pada upaya mengembalikan kemampuan hidup yang paling optimal bagi pasien.
“Tetapi juga memiliki kualitas hidup yang optimal,” tambahnya.
Pakar rehabilitasi Chung Tze Yang memperingatkan bahaya spastisitas atau kekakuan otot yang tidak ditangani dengan benar. Kondisi tersebut sering menjadi pemicu utama munculnya keterbatasan gerak yang bersifat permanen pada penyintas.
“Spastisitas yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi kontraktur permanen,” jelas Chung.
Intervensi medis yang dilakukan sejak tahap awal serangan stroke sangat menentukan peluang kesembuhan fisik. Kecepatan tindakan menjadi elemen kunci agar komplikasi berat pada sistem gerak tubuh tidak terus berlanjut.
“Oleh karena itu, intervensi sejak dini menjadi kunci utama dalam rehabilitasi,” tuturnya.
Sakinah Sabirin menjelaskan bahwa setiap penyintas stroke memerlukan strategi pemulihan yang berbeda dan bersifat personal. Karakteristik kerusakan saraf yang unik pada setiap individu membuat penanganan medis tidak bisa disamaratakan.
“Setiap pasien stroke memiliki kondisi yang unik, sehingga strategi rehabilitasi harus disesuaikan secara personal,” kata Sakinah.
Ia mendorong tenaga kesehatan untuk selalu memperhatikan kemampuan fungsional pasien dalam menyusun program latihan. Targetnya adalah memastikan pasien dapat kembali beraktivitas secara mandiri meski pernah mengalami serangan otak.
“Dengan mempertimbangkan aspek fungsional dan kualitas hidup pasien,” sambungnya.
Dr. Rita Vivera Pane memaparkan pandangan klinis mengenai realitas penanganan pasien stroke di dalam negeri. Sinergi antara berbagai profesi kesehatan menjadi faktor penentu dalam mempercepat proses pemulihan kondisi fisik pasien.
“Kolaborasi antara dokter, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya sangat menentukan keberhasilan rehabilitasi pasien stroke,” papar Rita.
Koordinasi yang kuat di lapangan diharapkan mampu menekan risiko cacat fisik jangka panjang bagi masyarakat. Langkah ini sekaligus memperkuat sistem kesehatan nasional dalam menghadapi tantangan penyakit degeneratif di masa depan.
“Terutama dalam mencegah disabilitas jangka panjang,” tegasnya.
Kolaborasi lintas negara ini juga menjadi bagian dari kontribusi institusi terhadap pemenuhan standar pendidikan global. Inisiatif tersebut memperkuat posisi Unusa dalam menciptakan dampak nyata bagi isu kesehatan internasional melalui jalur akademik. [ipl/but]






