Magetan (beritajatim.com) – Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan mencatat adanya tren penurunan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di wilayah tersebut selama bulan Januari.
Kabid Kesehatan Hewan, drh. Budi Nur Rochman menyampaikan bahwa kondisi ini terlihat jelas pada minggu kedua Januari, di mana jumlah kasus menurun secara signifikan. Saat ini, tersisa sekitar 200–300 kasus yang masih dalam proses penanganan oleh petugas lapangan.
Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan cuaca yang mulai menghangat dan munculnya matahari. “Pergerakan PMK menjadi melambat, terutama di desa-desa,” ungkap drh. Budi. Namun demikian, cakupan vaksinasi terhadap PMK di Magetan masih tergolong rendah, sehingga langkah pencegahan lebih lanjut sangat diperlukan.
Data terakhir yakni 848 kasus, 581 ternak sembuh, ternak mati 88 ekor. Sementara yang sudah divaksinasi mandiri yakni sejumlah 1.200 ekor.
Tingkat Kematian Ternak dan Penyakit Ikutan
Selama Januari 2025, tercatat sebanyak 88 ekor ternak mati akibat gejala yang tidak sepenuhnya disebabkan oleh PMK. Berdasarkan hasil laboratorium dari Yogyakarta, ditemukan bahwa beberapa kasus kematian disebabkan oleh penyakit ikutan seperti parasit darah dan infeksi bakteri pada saluran pernapasan.
Dari 7 sampel darah yang diambil di Sukomoro, seluruhnya terindikasi adanya parasit darah. Selain itu, satu ekor ternak menunjukkan infeksi bakteri Pasteurella multocida, yang dapat memengaruhi saluran pernapasan hewan. Kasus-kasus ini menjadi perhatian khusus, mengingat tingkat kematian yang tinggi di daerah tersebut.
Langkah Penanganan dan Pencegahan
Untuk menekan penyebaran PMK dan penyakit ikutan, Dinas Peternakan dan Perikanan akan segera melakukan vaksinasi massal. Vaksin yang dijadwalkan tiba dari Kementerian Pertanian pada akhir Januari ini akan segera didistribusikan ke desa-desa. Petugas juga tengah mendata kebutuhan vaksin untuk mempercepat pelaksanaan program ini.
Selain itu, Budi menghimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan kandang, terutama guna mencegah penyebaran parasit darah yang umumnya dibawa oleh serangga seperti nyamuk. Penyemprotan kandang dengan obat pembasmi nyamuk yang aman bagi manusia dan hewan juga dianjurkan dilakukan secara rutin.
Budi mengingatkan para peternak agar tidak panik menghadapi kasus PMK maupun penyakit ikutan. “Pastikan informasi yang diterima berasal dari petugas resmi di lapangan. Kami sudah menempatkan petugas di setiap desa untuk memastikan penanganan yang benar,” jelasnya. Dengan kerja sama yang baik antara peternak dan pemerintah, diharapkan penyebaran PMK dan penyakit lainnya dapat dikendalikan secara efektif. (fiq/ted)






